Ini 4 Strategi Kemenperin Capai Substitusi Impor 35% Tahun 2022

Inkana Putri - detikFinance
Sabtu, 26 Sep 2020 13:49 WIB
Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) dan Kementerian/Lembaga (K/L) di Bintan
Foto: Kemenperin
Jakarta -

Kementerian Perindustrian ingin mewujudkan program substitusi impor sebesar 35% pada tahun 2022. Target ini diakselerasi guna mendorong pemulihan ekonomi nasional akibat dampak pandemi COVID-19.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pihaknya telah menyiapkan strategi khusus untuk mengoptimalkan program tersebut.

"Adapun empat strategi yang akan kami jalankan, yakni pendalaman struktur industri, kemandirian bahan baku dan produksi, perlunya regulasi dan insentif yang mendukung, serta pengoptimalan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN)," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2020).

Hal ini disampaikan pada Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN) dan Kementerian/Lembaga (K/L) di Bintan, Kepulauan Riau kemarin.

Agus menegaskan agar sasaran substitusi impor bisa cepat tercapai, diperlukan dukungan dan langkah sinergi dari seluruh pemangku kepentingan terkait, mulai dari lingkup kementerian dan lembaga, hingga asosiasi industri.

"Guna mengakselerasinya, kami juga akan fokus pada implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0," paparnya.

Akibat adanya dampak pandemi COVID-19, Kemenperin juga menambahkan dua sektor prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu industri farmasi dan industri alat kesehatan, yang mengalami pertumbuhan dan permintaan signifikan di masa pandemi.

"Kami dapat pelajaran dari dampak pandemi ini, bahwa kita harus menjadi negara yang mandiri di sektor kesehatan. Jadi, ada tujuh sektor prioritas pada roadmap Making Indonesia 4.0," imbuhnya.

Dari tujuh sektor tersebut, adapun kelima sektor prioritas sebelumnya antara industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta elektronik.

"Dari lima sektor tersebut saja sudah mempresentasikan 70 persen dari PDB industri yang ada di Indonesia, 60 persen dari ekspor industri, dan 60 persen dari penyerapan tenaga kerja yang ada di Indonesia," ungkapnya.

Terkait hal ini, Agus merasa optimistis apabila inisiatif Making Indonesia 4.0 dijalankan secara baik, Indonesia akan menjadi negara 10 besar dengan perekonomian terkuat di dunia tahun 2030. Menurutnya, strategi tersebut mampu menarik investasi baru dan menjaga iklim usaha di tanah air.

"Dalam implementasinya, kami akan jalankan secara simultan, antara penurunan impor melalui substitusi impor pada sektor industri yang nilai impornya besar, dengan peningkatan utilisasi produksi pada seluruh sektor industri pengolahan," paparnya.

Kemenperin juga akan terus membidik utilisasi sektor manufaktur secara keseluruhan sehingga bisa mencapai 60% hingga akhir tahun ini meskipun terdampak pandemi COVID-19. Pada tahun 2021, Kemenperin akan menggenjot utilisasi sebesar 75%, dan sebesar 85% di tahun 2022.

"Sebelum hadir COVID-19 di Indonesia, utilisasi industri di Indonesia mencapai 75%. Mulai dari Juni sampai sekarang sudah mulai ada tanda pemulihan, dengan tingkat utilisasi 52%. Kinerja gemilang ini tercermin juga dari Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia di bulan Agustus yang berada pada level 50,8 atau menandakan sedang ekspansif," katanya.

Peningkatan utilisasi tersebut juga memberikan beberapa efek positif, antara lain penyerapan tenaga kerja yang terdampak PHK, peningkatan kemampuan belanja dalam negeri, dan peningkatan pasar ekspor.

"Strategi penurunan impor ini akan kami dorong melalui peningkatan investasi, tentunya akan ada penyerapan tenaga kerja baru," ujar Agus.

Pada periode 2019-2023 Kemenperin mencatat rencana sejumlah investasi sektor manufaktur yang sudah terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total nilainya menembus Rp 1.048,04 triliun dari 12 perusahaan.

Sektor-sektor tersebut meliputi industri permesinan dan alat mesin pertanian, industri kimia hulu, industri kimia hilir dan farmasi, industri logam (non-smelter), industri smelter, industri elektronika dan telematika, serta industri makanan hasil laut dan perikanan.

Selanjutnya, ada industri minuman, tembakau dan bahan penyegar, industri tekstil, kulit dan alas kaki, industri alat transportasi (otomotif), industri bahan galian non logam, serta industri hasil hutan dan perkebunan.

"Kami siap kawal realisasi investasi ini, karena tentunya akan sangat membantu pada program substitusi impor," tegasnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan pihaknya juga sudah menghitung jumlah investasi yang dibutuhkan untuk mengalihkan 35% impor barang input sektor manufaktur ke produksi dalam negeri.

"Total kebutuhan investasinya sebesar Rp 197 triliun, kemudian nilai target produksi Rp142 triliun, dan biaya investasi Rp 55 triliun. Target produksi ini adalah untuk struktur biaya di luar proses produksi, seperti perizinan, pengadaan lahan dan lainnya," paparnya

Ia mengatakan apabila investasi itu terealisasi, akan tercipta sebanyak 397.000 peluang kerja tambahan. Penambahan ini setingkat dengan peningkatan 6% ketenagakerjaan di sektor manufaktur.

"Kami bertekad untuk menjaga aktivitas sektor industri di tengah masa pandemi saat ini, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan disiplin," pungkasnya.

Sebagai informasi, industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Sepanjang triwulan II tahun 2020, sektor industri masih memberikan kontribusi terbesar pada struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan mencapai 19,87%.

(mul/mpr)