Catat! Bea Masuk Remdesivir untuk Pasien Corona 0%

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 07 Okt 2020 06:00 WIB
Antivirus Remdesivir Disebut Berdampak Signifikan Terhadap Pemulihan Pasien COVID-19
Ilustrasi/Foto: DW (News)
Jakarta -

Pemerintah memastikan impor remdesivir bebas bea masuk, alias berlaku bea masuk 0%. Hal ini diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 83 tentang Pemberian Fasilitas Kepabeanan dan/atau Cukai Serta Perpajakan Atas Impor Barang Untuk Keperluan Penanganan Pandemi Corona Virus Disease (COVID-19).

Sebelumnya harga remdesivir untuk pasien COVID-19 yang didistribusikan oleh PT Kalbe Farma Tbk sempat menjadi sorotan karena dianggap kemahalan, yakni Rp 3 juta per vial. Tak lama berselang, obat dengan merek Covifor yang diimpor dari perusahaan asal India, Hetero itu diturunkan menjadi Rp 1,5 juta.

Kembali soal bea masuk remdesivir, Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Bea Cukai Haryo Limanseto menjelaskan barang tersebut berlaku bea masuk 0% karena untuk penangan COVID-19.

"Jadi obat ini dia masuk yang PMK 83 Tahun 2020, karena penanganan COVID ya," kata dia kepada detikcom, Selasa (6/10/2020).

Dia menjelaskan ada beberapa kategori barang yang pungutan impornya 0%. Pertama adalah produk untuk penanganan COVID-19 yang diatur di dalam PMK 83/2020. Kedua, barang yang belum diproduksi di dalam negeri.

Sementara produk di luar kategori di atas maka dikenakan pungutan impor mulai dari 5% hingga seterusnya.

"Kan kategorinya ada tiga, yang masih bahan baku obat itu 0%, obat yang belum sepenuhnya bisa diproduksi (di dalam negeri) itu di 0% juga. Nah kalau obat yang sudah bisa diproduksi di Indonesia tapi masih diimpor itu (pungutannya) 5% ke atas," tambahnya.

Harga remdesivir Kalbe Farma turun tak lama setelah PT Indofarma Tbk mengumumkan akan menjual obat sejenis.

Ada perang harga? Baca di halaman selanjutnya.

Kalbe Farma mengumumkan seharga remdesivir yang didistribusikannya Rp 3 juta per vial pada Kamis 2 Oktober. Namun per Sabtu 3 Oktober, perusahaan menjual obat tersebut seharga Rp 1,5 juta per vial.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius mengungkapkan ini adalah komitmen Kalbe bersama Amarox untuk mendukung pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19.

Saat ditanyakan apakah penurunan harga obat ini karena Indofarma menjual produknya sejenis di bawah Rp 2 juta, Vidjongtius tak berkomentar banyak.

"Saya belum tahu info itu," kata dia kepada detikcom.

Indofarma pun akhirnya merilis harga remdesivir dengan nama dagang Desrem™, yakni Rp 1,3 juta per vial.

"Dirilis hari ini, harga Remdesivir dari Indofarma Rp 1,3 juta," kata Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto kepada detikcom, Senin (5/10/2020).

Arief menjelaskan obat tersebut akan diedarkan secara bertahap mulai Jumat (9/10) mendatang tergantung pemesanan. Untuk bulan ini, pihaknya memasok sebanyak +/- 400.000 vial per bulan.

Obat itu diproduksi Mylan Laboratories Limited, atas lisensi dari Gilead Sciences Inc, Foster City dan United States of America. Arief menyebut produknya itu telah mendapat persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) di Indonesia dan telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui penerbitan Nomor Izin Edar yang sudah diterbitkan pada tanggal 30 September 2020.

(toy/ara)