Begini Kilatnya Penanganan 1,2 Juta Vaksin Sinovac yang Tiba di RI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 11:25 WIB
Vaksin Corona dari Sinovac telah tiba di Indonesia. Kini vaksin tersebut disimpan di PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat.
Foto: Istimewa/presiden.go.id
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan penanganan kilat kepabeanan saat kedatangan 1,2 juta vaksin Sinovac semalam. Seperti diketahui, vaksin dari China itu tiba di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, semalam.

Dia mengatakan impor yang dilakukan untuk vaksin diberikan fasilitas rush handling alias pelayanan kepabeanan dengan segera di Bandara Soetta. Dia mengatakan biasanya proses bisa memakan 3 hari, namun dipercepat.

Dia mengatakan setelah vaksin tiba dan diinspeksi, vaksin langsung dikirim ke gudang Bio Farma di Bandung dengan pengawalan ketat TNI-Polri.

"Kami berikan pelayanan mulai dari mekanisme pengadaannya dan fasilitas fiskalnya, serta rush handling. Di mana dari mulai PIB sampai pengeluaran barang yang selama ini dilakukan maksimal 3 hari jadi dipercepat," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers virtual, Senin (7/12/2020).

"Tadi malam begitu datang, langsung diperiksa dan dikirim ke gudang Bio Farma di Bandung dengan pengawalan ketat TNI-Polri, insyaallah sudah sampai sekarang," lanjutnya.



Sri Mulyani mengungkapkan dirinya sempat melakukan monitoring ke Bea Cukai di Bandara Soetta. Dia mengungkapkan mendapatkan laporan vaksin yang datang berjumlah 1,2 juta dosis diimpor langsung dari Sinovac Life Science Corporation di China. Di Indonesia, PT Bio Farma menjadi pihak penerimanya.

Dia memaparkan vaksin dikemas dalam 33 paket. Per paket beratnya 9.229 kilogram (kg). Nilai pabean kiriman vaksin dari China ini sebesar US$ 20.571.978 atau sekitar Rp 290 miliar (kurs Rp 14.100).

"Vaksin dikemas dalam 33 paket dengan berat bruto 9.229 kg. Vaksin sesuai AWB no PEK 99 46 3221. Nilai pabean impor vaksin ini US$ 20.571.978," papar Sri Mulyani.

Kemenkeu sendiri sudah menerbitkan insentif untuk impor vaksin dalam PMK 188/PMK.04/2020. Insentif berupa penghapusan beberapa pungutan pajak dan cukai. Dari hitungannya, 1,2 juta vaksin Sinovac ini mendapatkan insentif sebesar Rp 50,95 miliar.

"Perkiraan fasilitas fiskal yang didapatkan Rp 50,95 miliar. Di mana pembebasan Bea Masuk Rp 14,56 miliar, dan pajak impor Rp 36,39 miliar," kata Sri Mulyani.

Dia menjelaskan pemenuhan administrasi barang impor sudah dilakukan oleh PT Bio Farma. Perusahaan farmasi pelat merah ini ditunjuk Kemenkes sebagai importir vaksin, dengan SKI dan SAS dari BPOM tertanggal 22 November, dan rekomendasi Kemenkes tertanggal 5 Desember 2020.

(eds/eds)