Dahlan Iskan: Gagal di Vaksinasi Adalah Bencana yang Lebih Besar

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 25 Des 2020 15:05 WIB
Hari pertama bekerja Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) mendatangi kantor Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk bersilaturahmi dan membicarakan program mengubah kondisi ibukota,  Jakarta (16/10). Mereka membeicarakan berbagai program seperti monorel, jalan layang, dan jalan tol khusus dari Bekasi ke Tanjung Priok. File/detikFoto.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Vaksinasi menjadi harapan Indonesia keluar dari bayang-bayang pandemi virus Corona (COVID-19). Sementara belum ada jaminan 100% bahwa vaksinasi bakal berhasil. Jika sampai gagal, bagaimana?

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menilai kegagalan vaksinasi merupakan bencana yang lebih besar. Sebab, vaksin akan menentukan segalanya.

"Maka penanganan vaksinasi mutlak harus sukses. Gagal di vaksinasi adalah bencana yang lebih besar. Virus korona yang mewabah setelah vaksinasi yang gagal menjadi lebih ganas," kata Dahlan dikutip dari catatannya di situs web disway.id, Jumat (25/12/2020).

Ada beberapa faktor yang dia anggap bisa menyebabkan vaksinasi gagal di Indonesia. Pertama, banyaknya orang yang enggan vaksinasi tanpa alasan medis. Mereka bisa menjadi pemicu datangnya virus Corona yang Iebih ganas.

"Tentu masih banyak penyebab gagalnya vaksinasi. Misalnya jumlah vaksin yang diimpor tidak mencukupi 70 persen jumlah penduduk untuk dua kali penyuntikan," sebutnya.

Itu artinya, Indonesia harus punya keterampilan dan daya tekan negosiasi tingkat global. Tak seperti Singapura, Brunei, Malaysia, Hongkong, dan negara kecil Iainnya yang menurut Dahlan hanya perlu jumlah vaksin sebanyak satu kota Surabaya.

Sedangkan Indonesia, kata dia perlu setidaknya 350 juta unit vaksin. Sementara yang datang baru 1,2 juta, dan yang akan datang berikutnya juga belum banyak jika diukur dari kebutuhan.

"Maka pengadaan vaksin untuk negara sebesar kita tidaklah mudah. Apalagi ada tekanan waktu: proses vaksinasi itu harus selesai sebelum setahun dari awal dimulainya vaksinasi. Agar yang belum vaksinasi tidak sempat menularkan Virus ke mereka yang masa kekebalan vaksinasinya sudah Iewat," paparnya.

Dia juga bicara soal tugas utama menkes baru Budi Gunadi Sadikin, yaitu nego dengan pabrik vaksin virus Corona (COVID-19). Pertama, soal jumlah pesanan yang harus didapat. Kedua, soal harga. Ketiga, soal logistik.

"Tiga tugas itu tidak terlalu terkait dengan keahlian sebagai dokter," paparnya.

Tentu, Dahlan menyadari begitu berat tugas Budi Sadikin. "Termasuk menjaga campur tangan para garong, copet, maling, rampok, dan bajak laut," sebutnya.

"Di tengah pandemi ini menangani manajerial bidang kesehatan sangatlah penting. Otak Budi sangat besar untuk bisa menampung dan menganalisis bidang yang rumit dan penuh ego ini," tambah Dahlan.

(toy/eds)