Di Tengah Diskriminasi Sawit RI, Uni Eropa Beberkan Fakta Ini

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 12:43 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Uni Eropa dalam beberapa tahun ini melakukan diskriminasi terhadap minyak kelapa sawit (CPO) dari Indonesia. Tapi tahun lalu, ekspor CPO dari Indonesia ke Uni Eropa justru tumbuh.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket menjelaskan selama 10 bulan pertama di 2020 nilai ekspor CPO Indonesia naik 27% dan dari sisi volume naik 10%.

"Ekspor dari kelapa sawit ke Uni Eropa di 10 bulan pertama tahun lalu itu naik, tidak kurang dari 27% kenaikan ekspornya, itu kalau kita bicara tentang value-nya. Kalau bicara volumenya itu naik 10%," kata dia dalam webinar, Rabu (13/1/2021).

Hal itu, dijelaskannya menunjukkan bahwa Uni Eropa tetap membuka pintu untuk produk kelapa sawit dari Indonesia.

"Jadi menurut saya ini adalah hal yang sangat sukses sekali dari negara Indonesia. Sangat jelas ini adalah sebuah bukti dan ada pintu yang tetap terbuka untuk ekspor untuk sumber daya alam, yaitu untuk kelapa sawit," sebutnya.

"Kita ada kesepakatan dengan Indonesia, tidak ada kebenaran di dalam pernyataan bahwa kami mem-banned, kami melarang ekspor dari minyak kelapa sawit atau membatasi. Kami bekerja sama secara khusus untuk minyak kelapa sawit," paparnya.

Dipahaminya memang ada perdebatan tentang keberlanjutan minyak kelapa sawit dan minyak sayur lainnya, dan isu ini menjadi persengketaan antara Indonesia dan Malaysia dengan Uni Eropa pada beberapa tahun terakhir.

Namun hal baiknya adalah kesuksesan di kedua belah pihak, yakni Indonesia-Malaysia dan Uni Eropa yang setuju untuk mendiskusikan minyak kelapa sawit dan minyak sayur lainnya agar berkelanjutan.

"Ini adalah tugas yang besar dan saya tidak bisa mengatakan bahwa ini akan ada hasilnya dalam 3-4 bulan ke depan, ya memang membutuhkan waktu. Tentu saja ini perlu didukung inisiatif-inisiatif dari sisi kami sehubungan dengan pelatihan, adaptasi, dan hal-hal lainnya di Malaysia dan di Indonesia, itu perlu didukung supaya kita bisa maju melangkah ke depan," tambahnya.

(toy/ara)