Ketua MPR Dorong RI Jadi Pengembang Industri Kendaraan Listrik

Abu Ubaidillah - detikFinance
Kamis, 14 Jan 2021 14:32 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan Indonesia harus menjadi pemain utama dalam pengembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL-BB) yang kini jadi tren dunia. Sebab Indonesia punya cadangan bijih nikel terbesar di dunia yang jadi bahan baku utama komponen baterai di kendaraan bermotor listrik.

Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 2019, dengan status hingga Desember 2018, cadangan bijih nikel di Indonesia mencapai 3,57 miliar ton. Rinciannya 2,87 miliar ton cadangan tak terkira dan 968 juta ton cadangan terbukti. Sementara sumber daya nikel mencapai 9,31 miliar ton. Rinciannya 2,03 miliar ton terukur, 2,68 miliar ton tertunjuk, 4,29 miliar ton tereka, dan 294,9 juta ton hipotetik.

"Tak heran jika Hyundai memindahkan operasionalnya dari Malaysia ke Indonesia. Selain karena market Indonesia yang besar, juga karena mereka ingin mengembangkan kendaraan listrik di sini. Bahkan produsen otomotif listrik asal Amerika Serikat, Tesla, juga serius mendekati Indonesia," kata Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (12/1/2021).

Pernyataan ini disampaikan dalam Ngobras (Ngobrol Santai) dengan pakar marketing, Hermawan Kertajaya. Menurutnya Januari ini juga dikabarkan mereka akan berkunjung ke Tanah Air untuk bertemu Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan dan tim pemerintah lainnya.

Ketua DPR RI ke-20 ini mengatakan dari segi political will, pemerintah Jokowi telah memberikan banyak insentif bagi produsen dan konsumen agar mau beralih dari kendaraan konvensional berbahan bakar fosil ke kendaraan bermotor listrik (KBL). Berdasar Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019, insentif fiskal yang sudah tersedia, antara lain pemberian insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) sebesar 0% bagi KBL yang mengikuti program pengembangan mobil listrik.

Selain pemerintah pusat, pemerintah daerah juga banyak yang memberikan insentif. Di antaranya Pergub DKI Jakarta Nomor 3/2020 yang membebaskan bea balik nama kendaraan bermotor (BBN-KB) untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBL-BB) di wilayah DKI Jakarta.

"Ada juga Permendagri Nomor 975-698/2019 yang mengatur insentif BBN-KB sebesar 10% terhadap mobil listrik dan 2,5 persen untuk sepeda motor listrik di wilayah Pemprov Jawa Barat. Serta Perda Bali Nomor 9/2019 yang mengatur insentif BBN-KB sebesar 10% untuk kendaraan listrik di Bali," papar Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini mengatakan dari segi konsumen, beralih ke kendaraan listrik mendatangkan banyak keuntungan. Seperti mendapatkan kredit khusus kendaraan bermotor listrik dari BRI dengan bunga 3,8% per tahun dan tenor sampai 6 tahun, gratis tambah daya dari PLN bagi pemilik mobil listrik, serta diskon 75% untuk tambah daya bagi pemilik sepeda motor listrik.

"Selain menjaga lingkungan dari pencemaran polusi udara yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar fosil, pemilik kendaraan listrik juga bisa menghemat pengeluaran bulanan mereka. Karena biaya perawatan yang rendah, sekitar 35% dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, lantaran tak adanya komponen tertentu seperti oli, filter oli, busi, dan katup engine," jelasnya.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini mengatakan biaya pengisian bahan bakar KBL sangat rendah dibanding kendaraan berbahan bakar minyak. Sebagai perbandingan, berbagai riset menampilkan sebuah sedan biasa yang dikemudikan 15.000 mil menghabiskan rata-rata US$ 6.957.

"Sedangkan kendaraan listrik, dengan jarak tempuh yang sama hanya membutuhkan sekitar US$ 540. Karena pengeluaran lebih hemat, masyarakat bisa menabung lebih banyak. Sekaligus mengalihkan pengeluaran rutin mereka untuk kendaraan ke kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya," pungkasnya.

(prf/ega)