Australia Masih Tutup Pintu Impor Mobil dari RI, Kok Bisa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 29 Jan 2021 17:05 WIB
Bendera Australia (AFP Photo)
Foto: Bendera Australia (AFP Photo)
Jakarta -

Indonesia dan Australia terikat dalam perjanjian perdagangan bebas yang tertuang dalam Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA. Dari perjanjian itu, 7.000 pos tarif ekspor Indonesia mendapatkan fasilitas bebas bea masuk alias 0%.

Salah satu produk yang bisa menikmati fasilitas bebas bea masuk itu adalah mobil. Sayangnya, mobil produksi Indonesia belum bisa masuk ke Australia.

"Sebagai contoh, bayangan kami yang bisa kami manfaatkan dari IA-CEPA itu adalah bagaimana kita bisa menggenjot orang Australia untuk bisa menggenjot Toyota Innova dan Mitsubishi Expander kita. Tetapi ternyata kita belum siap," ungkap Lutfi dalam konferensi pers virtual Trade Outlook 2021, Jumat (29/1/2021).

Lutfi mengungkapkan, spesifikasi mobil Indonesia belum memenuhi standar Australia, khususnya dari tingkat emisi.

"Karena memang basisnya adalah market kita, masih berstatus environmentalnya itu tidak setinggi yang bisa dikerjakan di Australia. Kalau tidak salah kita ini masih Euro 2 atau Euro 3 (standar emisi kendaraan Eropa), sedangkan Australia sudah Euro 4," terang Lutfi.

Pada November 2020 lalu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan, Australia adalah negara yang belum terjamah mobil buatan Indonesia. Padahal, Indonesia menempati posisi ke-13 negara pembuat mobil terbanyak di dunia, dan sudah diekspor ke lebih dari 80 negara.

"Misalnya Australia, negara besar untuk konsumsi kendaraan. 1,2 juta mobil dijual di Australia tiap tahun, tidak ada satu pun mobil datang dari Indonesia. Padahal di Australia tidak ada pabrik mobil, Jadi 1,2 juta mereka impor CBU dari luar, Indonesia sebagai penghasil mobil terbesar 13 di dunia belum mengekspor 1 pun mobil ke Australia. Oleh sebab iu kami akan datang," kata Nangoi dalam dialog publik "Pelabuhan Patimban dan Geliat Ekonomi Nasional" yang diselenggarakan bersama Kementerian Perhubungan, Jumat (20/11/2020).

Nangoi mencontohkan Toyota Fortuner yang laku keras di Australia. Sayangnya, Fortuner yang dijual di Australia bukan buatan Indonesia. Padahal, Fortuner produksi Indonesia sudah dikapalkan ke banyak negara.

(vdl/hns)