Katanya di Industri 4.0 Manusia Digantikan Oleh Robot, Benarkah?

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 05 Apr 2021 14:38 WIB
Robot humanoid AI Ai-Da akan memamerkan serangkaian hasil lukisan berupa potret dirinya sendiri yang dia buat dengan melihat ke cermin.
Foto: Ai-Da
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menepis anggapan tentang revolusi industri 4.0 yang dikira bakal menggantikan peran manusia dengan robot. Bagaimana faktanya?

"Selama ini banyak orang selalu mengira bahwa dengan mengimplementasikan industri 4.0 akan mengurangi banyak tenaga kerja atau menggantikan tenaga kerja dengan mesin," kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional ( KPAII) Kementerian Perindustrian, Eko S.A. Cahyanto dalam diskusi FMB9, Senin (5/4/2021).

Padahal berdasarkan dokumen pemaparannya, revolusi industri 4.0 justru akan menambah jumlah lapangan kerja dari 20 juta menjadi 30 juta pada 2030 mendatang. Artinya ada tambahan 10 juta lapangan kerja.

"Kalau kita betul-betul memanfaatkan teknologi ini kita justru akan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga kerja," sebutnya.

Namun, untuk mewujudkan revolusi industri yang berorientasi teknologi itu, hal pertama yang dibutuhkan adalah berusaha mentransformasi sumber daya manusia (SDM) yang ada.

"Mereka harus aware dulu apa itu (revolusi industri) 4.0. Kemudian bagaimana kita memberi kompetensi yang baru kepada mereka. Melakukan shifting ini harus dilakukan secara masif," paparnya.

Setelah itu, dilihat seperti apa kesiapan industrinya. Kata dia, industri dalam negeri saat ini posisi dalam keadaan siap mengimplementasikan revolusi industri 4.0.

"Belum sampai pada sepenuhnya mengimplementasikan tapi sudah siap kalau dirata-ratakan. Beberapa industri sudah betul-betul menerapkan sepenuhnya 4.0 itu. Nah industri-industri yang sudah menerapkan sepenuhnya 4.0 bahkan sudah diakui oleh dunia," tambah dia.

(toy/zlf)