Molor, LG Groundbreaking Pabrik Baterai Mobil Listrik Juni 2021

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 16:33 WIB
Merasakan Fasilitas Pengisian Baterai Mobil Listrik di Thailand

Bangkok - Thailand sudah mulai menerapkan era mobil ramah lingkungan. Saat ini di Negeri Gajah Putih sudah banyak beredar mobil ramah lingkungan, salah satunya mobil berteknologi plug-in hybrid.

Mobil plug-in hybrid sendiri berbeda dengan mobil hybrid konvensional. Mobil plug-in hybrid yang menggabungkan mesin bakar dan motor listrik bisa diisi ulang baterainya dengan mencolokkan listrik dari sumber listrik di tembok ke mobil.
Foto: Rangga Rahadiansyah
Jakarta -

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia membeberkan, LG Energy Solution Ltd akan melakukan groundbreaking alias peletakan batu pertama pabrik baterai kendaraan listrik pada bulan Juni atau Juni 2021 mendatang.

Dana yang dikucurkan untuk proyek tersebut ialah sebesar US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 142 triliun.

Untuk membangun pabrik itu, LG yang membentuk perusahaan konsorsium dengan Hyundai, POSCO Group, dan salah satu perusahaan asal China, serta bekerja sama dengan BUMN.

"Kemudian LG dengan grupnya sudah kita teken MoU-nya, dan sudah juga HoA-nya, dan insyaallah groundbreaking untuk baterainya bulan Juni-Juli. Itu investasi kita US$ 9,8 miliar," kata Bahlil dalam rapat koordinasi pembangunan pusat Kementerian PPN/Bappenas, Kamis (29/4/2021).

Namun, jika melihat rencana awal, tahap groundbreaking itu molor. Pasalnya, pada Rapat Kerja Kementerian Perdagangan tahun 2021 yang digelar pada 4 Maret lalu, Bahlil mengatakan proses groundbreaking akan dilakukan pada akhir bulan lalu.

"LG yang investasi sebesar US$ 9,8 miliar mulai groundbreaking nantinya di bulan Maret akhir," papar Bahlil dalam rapat kerja Kemendag 4 Maret 2021 lalu.

Tahap awal proyek ini akan membangun pabrik dengan kapasitas daya 10 gigawatt. Nantinya, pabrik beroperasi dari hulu sampai ke hilir dalam proses produksi baterai kendaraan listrik.

"Untuk 10 gigawatt pertama. Jadi ini adalah investasi LG, Hyundai, POSCO, dengan 1% dari China. Kemudian mereka bekerja sama dengan BUMN Indonesia yang mulai dari proses tambangnya, smelternya, precursor, katoda, battery cell, mobil, sampai dengan recyclenya. Ini bentuk yang akan kita lakukan ke depan," terang Bahlil.

(vdl/zlf)