Popok Sekali Pakai Memang Praktis dan Ekonomis, Sudah Tahu Bahayanya?

Dana Aditiasari - detikFinance
Minggu, 16 Mei 2021 16:00 WIB
Sampah Popok Mencemari Sungai Brantas, Ancaman Bagi Lingkungan dan Warga
Foto: DW (SoftNews)
Jakarta -

Popularitas popok bayi sekali pakai kian menanjak sejalan dengan penggunaan dan pemanfaatannya yang sangat praktis.

"Habis dipakai, tinggal buang," tutur Winar, ibu dengan anak usia 10 bulan saat berbincang dengan detikcom, belum lama ini.

Winar tentu bukan satu-satunya yang berpikir demikian. Banyak orang tua yang memiliki anak usia bawah tiga tahun (batita) punya pikiran serupa.

Bukan hanya praktis saja, saat ini banyak juga tersedia popok sekali pakai dengan harga yang cukup terjangkau. Selain itu, hampir setiap mini market menyediakan beragam varian popok sekali pakai ini membuatnya sangat mudah didapatkan.

Namun, di balik nyaman dan praktisnya popok sekali pakai ini, rupanya ada bahaya lingkungan yang menghantui di belakangnya.

Catatan detikcom, sampah popok sekali pakai ini jadi ancaman baru bagi sungai-sungai di sejumlah kota di Pulau Jawa. Sungai Kalimas dan Sungai Rungkut, anak Sungai Brantas di Surabaya misalnya, sempat menghadapi masalah pencemaran sampah plastik terutama popok sekali pakai.

Survey yang dilakukan aktivis lingkungan yang tergabung di Ecoton (Ecological Observation and Wetlands Conservation) mendapati, satu harinya seorang bayi atau balita menghabiskan 5 sampai 6 popok sekali pakai.

Sementara, data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2017 menyebutkan, terdapat sekitar 750.000 bayi yang tinggal di sekitar bantaran Sungai Brantas. Bila diperkirakan setiap harinya satu bayi memakai 4 popok, maka terdapat 3 juta popok bayi yang digunakan setiap harinya.

"Bila sepertiganya saja, katakanlah 1 juta popok bayi yang akan dibuang ke sungai. Ini akan menjadi dampak yang buruk bagi kehidupan sungai, di mana di sungai itu ada ikan, ada beberapa makhluk hidup atau serangga-serangga sungai. Jadi ini akan berpotensi buruk bagi kehidupan sungai dan manusia di sekitar Sungai Brantas," jabar Manager Advokasi & Litigasi Ecoton Foundation, Azis.

Dengan komposisinya yang didominasi plastik dan serat fiber yang sulit diurai oleh alam membuat limbah popok bayi ini rawan memicu masalah lingkungan seperti penyumbatan aliran sungai yang memicu masalah banjir.

"Komponen popok bayi itu sangat susah diurai di alam. Jadi nggak heran kalau kita sering jumpai sampak popok yang dibuang ke sungai akhirnya jadi tumpukan sampah di hilir sungai," kata CEO Guna Olah Limbah (GOL), Archie Satria Nugroho, belum lama ini.

Kondisi ini jelas punya imbas serius bagi perekonomian setempat. Banjir bisa menghambat akses pekerja ke tempat kerjanya. Imbasnya, aktivitas ekonomi tak bisa berjalan optimal.

Masalah lainnya, banjir seringkali disebut sebagai masalah utama yang menghambat arus logistik pengiriman barang antar kota antar wilayah. Hambatan arus logistik juga menimbulkan masalah lanjutan seperti kenaikan harga barang hingga kelangkaan pasokan barang.

Belum lagi masalah yang timbul akibat tutupnya toko-toko ritel selama banjir melanda. Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta pernah menghitung kerugian yang ditimbulkan akibat tutupnya toko ritel imbas banjir.

Misalkan saja, ada 400 toko ritel diperkirakan tutup karena terkena dampak banjir. Jika satu toko memiliki pelanggan sekitar 100 orang, maka ada 40.000 jumlah pelanggan yang hilang. Kalau satu orang belanja Rp 250 ribu, maka kerugian diperkirakan mencapai Rp 10 miliar per hari.

Angka itu belum termasuk toko ritel yang ada di dalam mal dan pasar tradisional. Ada sekitar 82 Mal yang tutup dengan rata-rata jumlah pengunjung saat libur tahun baru mencapai 5000 orang. Jika satu orang belanja minimal Rp 200 ribu, maka transaksi mencapai Rp 82 miliar per hari. Namun akibat banjir terjadi penurunan pengunjung sekitar 50%, sehingga kerugian ditaksir Rp 41 miliar.

Sedangkan terdapat 28 pasar tradisional yang terkena imbas banjir. Akibat itu 7.000 ribu pedagang tidak bisa berjualan. Jika rata-rata penjualan sekitar Rp 500 ribu per pedagang, maka terjadi kerugian Rp 3,5 miliar.

(dna/zlf)