Stakeholder Berkumpul, Bahas Ambisi RI Kembangkan Mobil Listrik

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 16 Jun 2021 07:05 WIB
Perangkat Closed Circuit Television (CCTV) terpasang di jembatan penyeberangan orang di Jalan Otto Iskandardinata, Jakarta, Selasa (19/9/2017). 

Ditlantas Polda Metro Jaya berencana menerapkan sistem tilang melalui CCTV bagi pengguna kendaraan bermotor di Jakarta. Hal tersebut dianggap lebih efektif karena jumlah personel polisi saat ini tidak memadai jika terus menggunakan sistem tilang konvensional.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Banyak negara memanfaatkan energi Konvensional di sektor mobilitas. Oleh karenanya keberhasilan dalam mengurangi emisi karbon di sektor ini akan sangat signifikan berkontribusi pada penurunan karbon di tingkat global.

"Ambisi Indonesia untuk mengembangkan EV (electric vehicle) menggantikan kendaraan Konvensional harus didukung oleh semua stakeholders di industri otomotif nasional maupun oleh semua stakeholders terkait," tegas Ketua Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI), R.M. Soedjono Respati, Rabu (16/6/2021).

Kondisi ini dibahas dalam agenda IEECCE (Indonesia Energy Efficiency and Conservation Conference & Exhibition) 2021 yang akan berlangsung selama 4 hari dari tanggal 14 -17 Juni 2021.

Agenda utama berupa Internasional Conference akan membahas isu-isu mutahir tentang upaya nasional dan global dalam melakukan Transisi pemanfaatan energi Konvensional menuju pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan di sektor-sektor utama sistem perekonomian.

Secara spesifik kali ini conference akan membahas isu-isu penting terkait upaya Dekarbonisasi di sektor Mobilitas/transportasi.

Secara keseluruhan, IEECCE 2021 ini terdiri dari International Conference, Exhibition dan beberapa Side Events diselenggarakan dalam format Virtual, diharapkan tanpa mengurangi efektivitas seluruh acara, meskipun tidak akan ada suasana khas dalam Acara seperti ini, yang dipenuhi oleh gegap gempita kemeriahan dari aktivitas para peserta selama IEECCE berlangsung, seperti jika diadakan secara "fisik" seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi jumlah Sessions sebanyak 7 Plenary dan 6 Breakout/Technical Sessions ditambah dengan 2 Summit Meetings, akan dihadiri oleh lebih dari 160 orang nara sumber dari dalam Negeri dan 15 manca Negara.

Karena sifatnya Virtual, Exhibition akan dibuka selama 24 jam selama 1 minggu penuh, sehingga diharapkan bisa dikunjungi oleh sekitar 1000 orang peminat di dalam Negeri maupun mancanegara yang berada di berbagai Zona Waktu di dunia.

"Demi tercapainya sasaran Pembangunan Rendah Karbon dan berkelanjutan, serta dalam rangka melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global, sebagaimana yang dicantumkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution sebagai wujud tanggung Jawab Indonesia dalam upaya-upaya global terkait perubahan iklim sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Paris tahun 2015," kata Jon Respati.

"Kami berharap Event ini akan bermanfaat dan memberi sumbangan dan dorongan pada upaya peningkatan efisiensi energi dan pengembangan energi bersih dalam rangka menjawab tantangan Transisi Energi global menuju pemanfaatan energi bersih (clean energy) untuk pembangunan berkelanjutan", tutupnya.

(fdl/fdl)