Tabung Oksigen Langka Perlu Impor? Aneka Gas: Itu Terlalu Heboh

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 07 Jul 2021 14:45 WIB
Pasokan oksigen untuk kebutuhan medis sempat mengalami kelangkaan. Pemerintah meminta pasokan oksigen industri dikonversi untuk memenuhi kebutuhan medis.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kelangkaan tabung oksigen ramai terjadi seiring peningkatan kasus COVID-19 di Tanah Air. Berapa sebenarnya kecukupan produksi oksigen di dalam negeri?

Presiden Direktur PT Aneka Gas Industri Rachmat Harsono menjelaskan dalam satu tahun ini produksi oksigen di Indonesia secara nasional sebanyak 1.700 ton per hari. Alokasinya sebesar 70% untuk kebutuhan industri, 30% medis.

"Kita total produksi 1.700 (ton) per hari, selama setahun ini 1.700 per hari seluruh Indonesia, untuk penggunaan industri biasanya 70% industri 30% medis," ujar dia dalam Blak-blakan detikcom, dikutip Rabu (7/7/2021).

Dia mengatakan jika saat ini tabung oksigen harus dialihkan 100% untuk keperluan medis, maka pasokan oksigen yang dimiliki Indonesia disebutnya cukup.

"Beberapa kementerian sudah koordinasi dengan 10 produsen untuk memenuhi pasokan oksigen, bahwa Pak Luhut mengatakan harus dialihkan 100% untuk medis. Produksi dalam negeri kalau 100% dialihkan medis, seharusnya cukup," jelasnya.

Namun, menurut Rachmat ada hal yang harus dibenahi agar tidak terjadi keterbatasan tabung oksigen. Pertama, silinder manajemen tabung oksigen di rumah sakit harus diperbaiki.

"Banyaknya masyarakat di rumah sakit darurat ini kan tabung oksigen ada di garasi ada di mana-mana, itu kan silindernya tercecer, kalau mereka tidak punya silinder manajemen yang baik tiba-tiba tabung oksigen itu hilang, entah dibawa pasien atau di mana nggak dibalikin. Kalau kita drop 100 kita ambilnya 50 dan kalau drop 50 ambil 20, lama lama kan jadi habis," lanjutnya.

Masalah kedua, banyak masyarakat yang beli sendiri tabung oksigen. Sementara rumah sakit membutuhkan terus-menerus. Maka dia mengapresiasi jika ada pihak yang membuka sewa tabung oksigen di masa sekarang ini.

"Masyarakat banyak yang beli oksigen sendiri, itu kan nggak dikembalikan (tabungnya) tapi disimpan itu kan hak dia. Sedangkan di rumah sakit harus rolling terus. Maka memang di sini harus ada gerakan. Kami sudah melihat ada komunitas pinjam (tabung) oksigen. Okay, kalau ada oksigen satu atau dua dipinjamkan ke temannya kalau sudah dipinjamkan lagi," ungkapnya.

Maka menurutnya kalau ada rencana impor tabung oksigen sebanyak 2.000 -5.000 botol gas oksigen hal itu terlalu heboh.

"Kalau kita impor 2.000-5.000 botol gas itu terlalu hebohlah," katanya.

Lanjut dia, impor tabung oksigen tidak perlu dilakukan kecuali lonjakan kasus COVID-19 di Tanah Air semakin melonjak.

"Kalau misalnya ada rencana impor dari Taiwan dan segala macam yang siap impor ya siap-siap saja. Tapi kalau memang nggak butuh, buat apa sih kita impor," kata Rachmat.

(eds/eds)