Tahukah Kamu? Ini Bedanya Vaksin Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm

Geordi - detikFinance
Jumat, 30 Jul 2021 13:52 WIB
Verdi Budidarmo Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, Jahja Setiaatmadja Presiden Direktur BCA dan Agus Chandra Plt. Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika tengah memperhatikan karyawan yang menerima vaksin gotong royong COVID 19 di Menara BCA, Jakarta, Senin (24/5/2021).
Foto: Agung Pambudhy

Vaksin Sinopharm
1. Efikasi
Uji klinik fase 3 yang dilakukan pada lebih dari 42.000 subjek di Uni Emirat Arab dan beberapa negara menunjukkan, efikasi vaksin Sinopharm sebesar 78,02 persen. Berdasarkan pengukuran imunogenitas vaksin setelah 14 hari penyuntikan dosis ke-2, 98,09 persen orang dewasa dan 97,62 persen lansia mengalami pembentukan antibodi.

Terkait imunogenesitas, 99,52 persen orang dewasa dan 100 persen lansia menunjukkan pembentukan antibodi yang dapat menetralisasi virus SARS CoV-2.

2. Efek samping
Kepala BPOM, Penny K Lukito menyebut, efek samping vaksin Sinopharm bisa ditoleransi dengan baik. Frekuensi kejadian masing-masing efek samping adalah 0,01 persen atau sangat jarang.

Efek samping lokal ringan mencakup rasa sakit dan kemerahan. Sedangkan efek samping sistemik mencakup sakit kepala, nyeri otot, diare, dan batuk.

3. Dosis dan interval penyuntikan
"Indikasi yang disetujui adalah untuk membentuk antibodi yang memberikan kekebalan untuk melawan virus SARS CoV-2 dan mencegah COVID-19 pada orang dewasa di atas 18 tahun, dengan pemberian 2 dosis pada durasi 21-28 hari," jelas Penny dalam keterangan resmi, Selasa (18/5/201).

Keterangan Menteri Kesehatan pada 11 Mei 2021 menyatakan, 1 dosis vaksin Sinopharm dalam program Gotong Royong seharga Rp 321.660 (tiga ratus dua puluh satu ribu enam ratus enam puluh rupiah), dengan tarif pelayanan vaksinasi sebesar Rp 117.910 per dosis.

Demikian bedanya vaksin Sinovac, AstraZeneca, dan Sinopharm. Karenanya masyarakat dihimbau untuk tidak pelu takut dalam menerima vaksi baik itu vaksin Sinovac, AstraZeneca, maupun Sinopharm.


(zlf/zlf)