3 Fakta Menarik di Balik Ngototnya RI Geber Baterai Mobil Listrik

Trio Hamdani - detikFinance
Sabtu, 18 Sep 2021 08:30 WIB
Hari ini pabrik baterai kendaraan listrik milik PT HKML Battery Indonesia di Karawang, Jawa Barat mulai dibangun. Pabrik ini memiliki nilai investasi sebesar US$ 1,1 miliar atau setara Rp 15,62 triliun (kurs Rp 14.200).
Dimulainya pembangunan (groundbreaking) pabrik baterai kendaraan listrik ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Karawang.
Foto: Istimewa/Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Indonesia sedang mendorong industri mobil listrik. Proyek pabrik baterai mobil listrik, sebagai komponen utama pun dimulai. Investasinya datang dari Korea Selatan, dan rencananya juga segera mengalir dari China.

Ada beberapa fakta di balik seputar pengembangan industri mobil listrik di Indonesia. Berikut penjelasannya.

1. Ada Negara yang Sirik

Menurut Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, ada negara tetangga yang tidak suka Indonesia membangun industri baterai kendaraan listrik.

"Bahwa yang kita groundbreaking itu adalah baterai 10 giga pertama. Kenapa ini kita lakukan? karena kita sadari negara-negara tetangga kita, saya tidak perlu sebutkan negaranya apa itu tidak ingin Indonesia menjadi salah satu negara produsen baterai di dunia," katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (17/9/2021).

Sayangnya Bahlil tak membeberkan negara mana yang dia maksud. Intinya negara tersebut ingin Indonesia hanya menjadi penyedia bahan baku baterai mobil listrik.

"Mereka ingin bahan bakunya saja ambil dari kita, kemudian mereka mau bangun di negara mereka supaya made in negara a, made in negara b. Nah kita membaca gelagat ini," tuturnya.

2. China Ikut Masuk

Pabrik baterai mobil listrik yang digarap Indonesia bersama Contemporary Amperex Technology (CATL), perusahaan asal China, rencananya groundbreaking tahun ini. Menyusul pabrik garapan PT HKML Battery Indonesia yang sudah lebih dulu groundbreaking pada Rabu 15 September.

"Sementara CATL kita lagi dalam proses, doakan, Insyaallah tahun tahun ini juga sudah bisa kita memulai groundbreaking-nya," kata Bahlil.

CATL berinvestasi di Indonesia senilai US$ 5,1 miliar atau setara Rp 72,4 triliun (kurs Rp 14.200). Perusahaan tersebut sudah menandatangani kontrak dengan Indonesia yang berdasarkan catatan detikcom, sudah dilakukan pada akhir 2020.

3. RI Seksi di Mata Investor

Bahlil menyebut ada banyak negara yang melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi di sektor tersebut. Salah satunya investor dari Eropa yang sebentar lagi akan masuk.

"Eropa sebentar lagi akan saya umumkan, tapi nggak boleh dulu saya bicara karena kami di kementerian investasi punya protap sudah teken baru diumumkan, atau minimal sudah diyakini benar masuk baru kita umumkan. Kalau setengah-setengah nggak mau kita umumkan. Jadi Eropa pun akan masuk," katanya dalam konferensi pers virtual, Jumat (17/9/2021).

Selanjutnya ada investor dari Asia Tenggara yang kata Bahlil pada bulan depan akan menandatangani nota kesepakatan (Memorandum of Understanding/MoU).

"Ada salah satu negara lagi di Asia Tenggara yang ini akan masuk mungkin bulan Oktober saya teken MoU-nya, (setelah itu) baru saya umumkan," tuturnya.

Lanjut Bahlil, kurang lebih ada sekitar 6 atau 7 negara yang rencananya akan berinvestasi ke Indonesia di sektor kendaraan listrik. Dengan demikian, Indonesia bukan tidak mungkin bisa menjadi pusat mobil listrik dunia.

(toy/hns)