Silmy Karim Kaget saat Jadi Dirut: Utang KS Jumbo, Kas Negatif!

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 29 Sep 2021 10:36 WIB
Jakarta -

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Silmy Karim mengaku saat pertama kali ditugaskan memimpin tak mengetahui kalau perusahaan punya utang yang besar.

"Masalahnya, saya nggak tau kalau utangnya begitu besar. Saya itu kan menjalani tugas. Pimpinan kan yang paling tahu. Tugas apa yang cocok. Kalau dalam hal ini saya ada pak menteri, kalau dulu bu menteri, di atasnya presiden. Yasudah kita nurut aja, mau dikasih apa ya kita jalani yang terbaik," kata dia dalam acara Blak-blakan detikcom.

Ia juga mengaku kaget dengan jumlah utang yang dimiliki perusahaan. Tapi, ia lebih kaget saat tahu Krakatau Steel memiliki cash flow negatif. Tidak hanya itu, ia membeberkan tambahan bunga utang perusahaan setiap hari bertambah Rp 7 miliar.

"Bayar utang pake utang, bayar gaji pakai utang. Nah makanya saya selalu bilang EBITDA, Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization, karena itu riil uang yang dihasilkan. Balik lagi utang gede. Kaget. Apa lagi kita itung tiap hari bertambah itu utang, itungan sekitar Rp 7 miliar per hari bunganya. Itu anget dong. Kita sudah kompres berkali-kali dong kepala," bebernya.

Selain utang yang bunganya terus bertambah, masalah selanjutnya dalam keuangan perusahaan, yakni EBITDA atau Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization yang disebut negatif. menurut Silmy masalah ini lebih rumit dari masalah utang.

"Yang paling dikhawatirkan itu cashflow karena EBITDA-nya negatif. Jadi lebih susah. Kalau besar EBITDA-nya masih positif apa lagi monopoli, itu relatif lebih mudah jadi isunya tidak terlalu banyak," ungkapnya.

Untuk itu dalam membenahi itu, Silmy melakukan sejumlah upaya. Di antaranya membuat program EBITDA harian. "Paling tidak membawa tim saya itu menjadi fighter apa yang dilakukan harus menghasilkan uang," jelasnya.

Lalu, dalam restrukturisasi ini pihaknya akhirnya juga menggabungkan beberapa anak usaha yang tugasnya memiliki kesamaan.

"Saya gabungin perusahaan-perusahaan yang urusannya baja. Dari trading pipa, sibu, besi beton dan lain sebagainya, termasuk hilirisasi, baja ringan. Itu semua, di situ kenapa jadiin satu supaya lebih optimal," ungkapnya.

(fdl/fdl)