Keras! Uni Eropa Larang Masuk Minyak Sawit-Kopi Hasil Rusak Hutan

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 17 Nov 2021 22:38 WIB
Minyak Sawit produksi Indonesia selama ini selalu dijegal oleh berbagai pihak yang salah satunya Eropa. Mulai dari isu kesehatan sampai isu lingkungan.
Ilustrasi/Foto: dok. GAPKI
Jakarta -

Uni Eropa mengumumkan aturan baru bagi perusahaan yang menjual enam komoditas utama untuk menekan deforestasi global. Peraturan tersebut mencakup kedelai, daging sapi, minyak sawit, kayu, kakao dan kopi, serta beberapa produk turunan seperti cokelat, kulit, dan furnitur.

Rencana tersebut akan membutuhkan dukungan dari negara-negara anggota dan Parlemen Eropa agar dapat mulai diberlakukan.

"Ini tentang tanggung jawab kita sebagai salah satu ekonomi terbesar, yang sayangnya mendorong deforestasi dan degradasi hutan di wilayah lain," kata Komisaris Lingkungan Uni Eropa Virginijus Sinkevicius dalam sebuah wawancara, dikutip dari Bloomberg, Rabu (17/11/2021).

"Dengan proposal ini, kami mengirimkan pesan yang sangat jelas bahwa kami memimpin dalam mengatasi masalah ini," sambungnya.

Mereka juga meluncurkan langkah-langkah untuk mempermudah pengiriman limbah antar negara anggota dalam upaya untuk meningkatkan daur ulang, sambil membatasi ekspor ke negara-negara non-Uni Eropa.

Sekitar 15% hingga 30% pengiriman limbah saat ini mungkin ilegal, setara dengan sekitar 9,5 miliar euro (US$ 10,7 miliar) setiap tahun. Secara terpisah, komisi tersebut ingin menangani kesehatan tanah di wilayah tersebut dan akan mengusulkan undang-undang pada tahun 2023.

Uni Eropa berusaha menjadi pemimpin dunia dalam perang melawan perubahan iklim. Proposal deforestasi akan membantu melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi emisi karbon tahunan setidaknya 31,9 juta ton, menurut perkiraan komisi. Itu akan diterjemahkan ke dalam penghematan ekonomi setidaknya 3,2 miliar euro per tahun.

Di halaman berikutnya tentang larangan berdagang komoditas hasil merusak hutan. Langsung klik

Lihat juga Video: Limbah Batu Bara Tak Masuk B3, Walhi: Terima Kasih Telah Racuni Rakyat

[Gambas:Video 20detik]