Mau Bisnis Kedai Kopimu Ramai Pengunjung? Ini yang Perlu Diperhatikan

Elsa Azzahra - detikFinance
Senin, 13 Des 2021 16:07 WIB
Para ahli pembuat minuman kopi (barista) terlihat serius mengikuti kompetisi Barista Battle di Tangerang Selatan, Sabtu (29/5/2021).
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Komunitas pecinta kopi, Barista Indonesia menyelenggarakan acara virtual dengan tajuk Budaya Pecinta Kopi dan Gaya Hidup Urban di Kedai Kopi.
Virtual event ini diselenggarakan oleh komunitas pecinta kopi, Barista Indonesia bekerjasama dengan Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) dengan tujuan selain untuk bertukar referensi antar sesama barista dan pecinta kopi dalam menghadapi pertumbuhan kedai kopi yang sangat kompetitif di Indonesia, juga mensosialisasikan kesadaran akan pengurangan risiko bahaya yang sebetulnya dapat dikelola dan bahkan dikurangi melalui berbagai cara, seperti dengan menerapkan konsep pengurangan bahaya atau harm reduction.

Dalam virtual event tersebut turut menghadirkan Harry Stiadi, Co Founder Barista Indonesia, Dwi Kurnia, owner Notificoffee dan Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo.

Dalam diskusi itu, ada sejumlah aspek yang menjadi penentu perubahan tren konsumen kopi yang pada akhirnya memberi pengaruh terhadap industri kedai kopi itu sendiri.

Harga

Co Founder Barista, Harry Stiadi mengatakan, salah satu penyebab perubahan tren budaya ngopi di kedai kopi di tengah masyarakat urban adalah harga kopi yang kian terjangkau.

"Kepraktisan dalam penyajian serta keragaman rasa yang disesuaikan dengan selera konsumen, padahal tadinya cukup dengan menyeduh kopi instan di rumah," tutur dia.

Tren Bersosialisasi

Sementara Dwi Kurnia, owner Notificoffee menambahkan intensi yang melatarbelakangi pengunjung untuk datang ke kedai kopi ternyata tidak hanya untuk minum kopi saja, tapi rehat/santai, bertemu teman dan pekerjaan.

"Bahwa meminum kopi tidak hanya melibatkan kebutuhan dosis kafein belaka, melainkan adalah kegiatan psikis yang mengukuhkan identitas individu atau komunitas didalamnya. Lewat ruang visual kedai kopi tidak hanya mencitrakan bahwa kedai kopi mereka unik, tetapi pelanggan yang datang akan merasa bahwa mereka juga termasuk dalam golongan tertentu yang tidak dapat disamakan dengan komunitas lainnya," jelasnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.