Ekonomi Digencet Pandemi, Bagaimana Nasib Industri Baja?

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 22 Jan 2022 15:02 WIB
Pekerja menyelsaikan pembuatan stainless steel strip di Pabrik milik PT. Bina Niaga Multiusaha, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (25/08/2016). PT. Bina Niaga Multiusaha (BNM) merupakan satu-satunya produsen stainless steel strip di Indonesia dalam bentuk coil khususnya untuk material yang sangat tipis dibawah 0.2 mm sampai dengan paling tipis 0.06 mm) dan sesuai dengan standard JIS (Japanese Industrial Standard) serta Standard Pengujian Material dari Amerika yaitu ASTM. Grandyos Zafna/detikcom.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemerintah sedang menggenjot industri baja. Lantas, bagaimana nasib industri baja di tengah masa pandemi COVID-19?

Ditektur Industri Logam Ditjen ILMATE Kemenperin Budi Susanto mengatakan pertumbuhan positif sektor baja nasional di tengah Pandemi COVID-19 tidak terlepas dari upaya pengendalian yang dilakukan Pemerintah.

Salah satunya, penerapan supply demand melibatkan sejumlah pihak industri baja dari hulu hingga hilir, meski November - Desember lalu terjadi penyesuaian tata cara importasi yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan melalui single windows INSW.

"Peningkatan kebutuhan baja ini didukung kebijakan PPnBM otomotif yang juga tumbuh hingga 27% di kuartal III tahun 2021 yang membutuhkan baja khusus di sektor otomotif yang belum bisa dipenuhi oleh pabrikan dalam negeri," kata Budi, Sabtu (22/1).

Pengaturan ini, sambung dia, menjadi penting agar produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri dapat dimaksimalkan. "Dan hampir semua impor yang ada merupakan bahan baku untuk berbagai jenis industri,"tambahnya.

Senada dengan Budi, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), Handjaja Susanto mengungkapkan, salah satu keberhasilan BAJA memperoleh laba bersih 100 miliar rupiah berkat kontrol pemerintah terhadap impor baja. Sehingga, pasar impor banyak beralih ke pasar lokal.

"Optimisme industri baja nasional harus terus dijaga dengan upaya hilirisasi dan subtitusi impor yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Sehingga, iklim usaha dan investasi akan terus meningkat di Indonesia," paparnya.

Berdasarkan data investasi di sektor logam, sambung dia, menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Hingga triwulan III tahun 2021 mencapai Rp. 87,73 triliyun serta utilisasi sektor ini mencapai di atas 60%. "Industri baja lapis meningkat sangat baik seperti yang ditunjukkan PT Saranacentral Bajatama."

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik