Perusahaan Baja Jerman Mau Kurangi Modal di Rusia Imbas Invasi ke Ukraina

Iffa Naila Safira - detikFinance
Kamis, 17 Mar 2022 09:15 WIB
Pekerja menyelsaikan pembuatan stainless steel strip di Pabrik milik PT. Bina Niaga Multiusaha, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (25/08/2016). PT. Bina Niaga Multiusaha (BNM) merupakan satu-satunya produsen stainless steel strip di Indonesia dalam bentuk coil khususnya untuk material yang sangat tipis dibawah 0.2 mm sampai dengan paling tipis 0.06 mm) dan sesuai dengan standard JIS (Japanese Industrial Standard) serta Standard Pengujian Material dari Amerika yaitu ASTM. Grandyos Zafna/detikcom.
Ilsutrasi Pabrik Baja (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Raksasa industri berat Jerman ThyssenKrupp menangguhkan arus kas bebas (free cash flow) kepada para pemegang sahamnya sebelum terjadi merger (penggabungan perusahaan) dan akuisisi (pemindahan kepemilikan perusahaan).

Alasan penangguhan ini bisa terjadi karena dikaitkan juga dengan krisis Rusia-Ukraina dan langkah perusahaan yang belum jelas, yaitu apakah bisa melepaskan sebagian divisi bajanya untuk di merger dan akuisisi.

"Thyssenkrupp tetap yakin bahwa posisi independen dari bisnis baja menawarkan prospek yang sangat baik untuk masa depan. Namun, pernyataan tentang kelayakan saat ini tidak mungkin karena kondisi ekonomi saat ini," kata ThyssenKrupp dikutip dari Reuters, Kamis (17/3/2022).

Meski penjualannya yang berada di Rusia dan Ukraina kurang dari 1% total penjualan perusahaan, ThyssenKrupp telah memperkirakan konsekuensi yang akan terjadi, seperti bisnisnya akan terpukul dari sisi makro ekonomi dan geopolitik yang luas dari perang di Ukraina.

Sebulan yang lalu, ThyssenKrupp berharap bisa mencapai titik impas antara keseluruhan pendapatan dan keseluruhan pengeluaran periode 2021/2022, sebelum dilakukannya M&A (merger dan akuisisi).

"Dengan latar belakang ini - khususnya karena kenaikan harga bahan baku - Thyssenkrupp AG menangguhkan perkiraan arus kas bebasnya sebelum M&A untuk tahun fiskal 2021/2022," tambahnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sampai dimulainya perang Rusia-Ukraina, bisnis pada kuartal I dan kedua II dalam satu tahun ini berjalan sesuai rencana.

Pada bulan Februari, ThyssenKrupp memperkirakan laba kotor sebelum adanya bunga dan pajak diantara 1,5 miliar euro (Rp 23,6 triliun) hingga 1,8 miliar euro (Rp 28,4 triliun), serta laba bersih setidaknya 1 miliar euro (Rp 15,7 triliun) untuk periode 2021/2022.

"Pada bulan Maret, efek negatif awal terjadi terutama di bisnis pasokan baja dan otomotif," imbuhnya.

Simak juga 'Jerman Akan Kurangi Impor Energi dari Rusia':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)