Mengintip Kinerja Sampoerna Sejak Diakuisisi Philip Morris

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2022 09:29 WIB
Philip Morris Indonesia
Foto: Aulia Damayanti
Jakarta -

PT HM Sampoerna Tbk berdiri sejak 1913. Namun, pada 2005 silam pemegang produk Djie Sam Soe itu telah diakuisisi oleh perusahaan asal Swiss yang bergerak di industri rokok dan tembakau, Philip Morris International.

President South & Southeast Asia Region, Philip Morris International (PMI), Stacey Kennedy mengungkap bagaimana kinerja Sampoerna sejak diakuisisi. Salah satunya bagaimana peningkatan kontribusi perusahaan kepada pendapatan pemerintah dan ekspor.

Sejak diakuisisi pada 2005 sampai sekarang, kontribusi Sampoerna terhadap pendapatan negara naik tujuh kali lipat. Sementara kontribusi dalam ekspor telah tumbuh 10 kali lipat.

"Indonesia menjadi hub ekspor yang semakin penting bagi kami di seluruh manufaktur kami di dunia. Itu berarti lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, dukungan dan pendapatan bagi perekonomian, dan meningkatkan reputasi Indonesia sebagai pusat investasi dan hub ekspor untuk seluruh dunia," ungkapnya saat ditemui di kantor PT HM Sampoerna Tbk di One Pacific Place, SCBD, Kamis (21/4/2022) kemarin.

Tak lama sejak diakuisisi oleh Philip Morris, Sampoerna mengembangkan bisnisnya untuk kerja sama dengan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Caranya dengan membentuk program Sampoerna Retail Community (SRC) pada 2008.

"Kini SRC berkembang menjadi lebih dari 160.000 toko kelontong yang diberi pembinaan dan dilatih. Total omzet mereka (toko kelontong) meningkat lebih dari 50% sejak bergabung dengan program ini. Dan terdapat lebih dari 1,2 juta konsumen yang juga mendapat manfaat, sebagai bagian dari program SRC," tuturnya.

"Hal-hal tersebut hanya salah satu cara dan kami akan berbicara lebih lanjut tentang dukungan kami untuk UMKM," tambahnya.

Selain mengembangkan kerja sama dan pelatihan untuk UMKM, petani tembakau menjadi target dalam mengembangkan perusahaan. Terutama dalam hal menggenjot produk bebas asap rokok.

"Selain wirausaha yang kami dukung dan latih, (ada juga) petani tembakau yang terus kami dukung, dan semua investasi kami bertujuan untuk mencapai masa depan bebas asap rokok difokuskan untuk memastikan bahwa seluruh ekosistem kami terlayani dengan baik," jelasnya.

Stacey menyebut, Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memproduksi produk rokok bebas asap dan yang kedua di Asia setelah Korea Selatan. Tidak hanya produksi untuk dalam negeri, Stacey menargetkan produk itu juga akan diekspor oleh Indonesia.

"Kami akan melakukan ekspor maupun pemasaran domestik untuk produk bebas asap (yang diproduksi di Indonesia). Itulah beberapa pilar yang dapat saya sampaikan," jelasnya.

Dalam data yang diberikan Sampoerna kepada detikcom, dalam kinerja bisnis 2020 Sampoerna telah meraup laba bersih sebanyak Rp 8,6 triliun dan berkontribusi ke pembayaran pajak hingga cukai sebesar Rp 61,2 triliun.

Sementara penjualan bersih perusahaan tercatat Rp 92 triliun dari volume penjualan sebanyak 79,5 miliar unit. Produk rokok yang dimiliki oleh Sampoerna di antaranya, Sampoerna A, Djie Sam Soe, Sampoerna U, Sampoerna Kretek, Philip Morris dan Marlboro.

Saat ini, Sampoerna telah memiliki kurang lebih 65.000 karyawan dan 112 kantor area penjualan dan distribusi. Selain program SRC yang sebelumnya telah dijelaskan, Sampoerna juga sempat membentuk Sampoerna Entrepreneurship Training Center pada 2007.

Program itu memfasilitasi pelatihan untuk pertanian di 27 hektar tanah di Sukorejo Jawa Timur. Pelatihan itu berlangsung di 106 Kabupaten Kota dan diikuti oleh 54.500 peserta.

(eds/eds)