RI Dekati Jerman Garap Sawit hingga Hidrogen

ADVERTISEMENT

RI Dekati Jerman Garap Sawit hingga Hidrogen

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 28 Mei 2022 21:35 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
Foto: Kemenperin: Menteri Perindustrian Agus Gumiwang
Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu perwakilan dua perusahaan Jerman. Pertemuan membahas peluang kerja sama pengembangan industri hilirisasi serta energi baru terbarukan (EBT) di Tanah Air.

Agus mengunjungi perusahaan Ecogreen Oleochemicals, yaitu industri produsen fatty acid dan produk-produk lain hasil hilirisasi kelapa sawit. Produk yang dihasilkan perusahaan ini digunakan oleh industri lain untuk bahan baku untuk produk deterjen, komponen perawatan kulit dan kosmetik, bahan kimia pertanian, industri tekstil, industri percetakan, industri makanan, dan obat-obatan.

"Hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit. Kami melihat teknologi yang digunakan oleh Ecogreen Oleochemical dapat mendukung hilirisasi industri di Indonesia. Karenanya kami berdialog dengan Ecogreen Oleochemical untuk membuka peluang tersebut," ujar Agus di Berlin, dikutip Sabtu (28/5/2022).

Sawit menjadi sektor yang cukup potensial di Indonesia. Sektor sawit menyerap 4,20 juta pekerja langsung dan 12 juta pekerja tidak langsung.

Kemudian program B30 yang dibuat pemerintah mampu menghemat devisa negara sebesar US$ 4,54 miliar atau setara dengan Rp 64,45 triliun. Emisi gas rumah kaca berkurang sekitar 24,4 juta ton setara CO2 lewat program ini.

Menperin juga bertemu perwakilan APUS Group, yang memiliki inisiatif APUS Zero Emission. APUS Group merupakan agensi desain European Aviation Safety Agency (EASA) yang meneliti penggunaan hidrogen secara aman dan ekonomis.

Kemenperin mulai menginisiasi pemanfaatan hidrogen di Indonesia, baik sebagai sumber tenaga pembangkit listrik maupun sebagai bahan bakar untuk moda transportasi. Seperti diketahui, hidrogen merupakan sumber energi alternatif untuk bahan bakar yang bisa diterapkan bagi sektor industri, transportasi, pembangkit listrik, tenaga portabel, dan sektor lainnya.

Hidrogen sebagai pengganti energi fosil saat ini masih dikembangkan di sektor pembangkit listrik. Kini, teknologinya merupakan hybrid dengan kombinasi hidrogen dan gas alam (grey hydrogen), yang masih menghasilkan emisi karbon. "Kami berharap untuk dapat memasukkan hidrogen biru pada tahap berikutnya," ujar Menperin.

Dalam roadmap industri otomotif nasional, Kemenperin telah menetapkan target 20 persen penggunaan kendaraan berbasis baterai listrik pada tahun 2025. Teknologi fuel cell berbasis hidrogen untuk produksi industri kendaraan ramah lingkungan juga termasuk di dalamnya.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT