ADVERTISEMENT

Pengusaha Sebut Pabrik Kelapa Sawit Pada Tutup Gegara Susah Jual CPO

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2022 11:59 WIB
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Tangki penyimpanan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sentra perkebunan sawit hampir penuh. Akibatnya, pabrik kelapa sawit (PKS) mulai membatasi pembelian tandan buah segar (TBS) milik petani mandiri (non mitra).

Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Provinsi Jambi Agus Rizal mengatakan PKS semakin sulit menerima TBS petani. Kalaupun diterima, harga TBS petani sangat rendah. Apalagi kondisi tanki penyimpanan CPO sudah penuh.

"Jadi kondisi saat ini yang kondisinya paling hancur itu selain TBS milik petani juga pabrik-pabrik kelapa sawit," kata Agus Rizal, Rabu (6/7/2022).

Menurut Agus Rizal, penuhnya tangki penyimpanan ini karena PKS sulit menjual CPO-nya. Kalau pun ada yang membeli, harganya sangat rendah. Kondisi ekspor yang belum normal juga memberikan pengaruh terhadap rendahnya harga TBS.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Jambi Tidar Bagaskara mengatakan bahwa kondisi saat ini banyak tangki CPO milik PKS yang hampir penuh. Akibatnya, mereka tidak lagi membeli TBS milik petani swadaya atau mandiri.

Bahkan sudah ada empat PKS yang menghentikan operasinya karena tangki CPOnya benar-benar sudah penuh. "Dari keempat PKS tersebut, satu milik anggota GAPKI dan yang tiga PKS bukan anggota GAPKI," kata Tidar Bagaskara.

Untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut, GAPKI Jambi, kata Tidar, telah beberapa kali melakukan pertemuan dengan unsur Pemerintah Provinsi Jambi. Menurutnya, Gubernur Jambi sangat mendukung untuk mencarikan solusi.

"Solusinya seandainya ada kesulitan di masalah transportasi kapal angkutan, Pak Gubernur siap membantu berkoordinasi ke Kemenhub. Kalau masalah pajak ekspor, dia siap berkomunikasi dengan Kemenkeu. Artinya di Provinsi Jambi semuanya mendukung bagaimana untuk meningkatkan harga TBS dan ekspor CPO kembali lancar. Namun semuanya kan regulasi ada di pemerintah pusat," kata Tidar.

Senada dengan Tidar, Ketua GAPKI Sumatera Barat Bambang Wiguritno mengatakan tangki-tangki penyimpanan CPO di Sumatera Barat juga hampir penuh, bahkan beberapa minggu yang lalu ada yang sudah penuh sehingga menghentikan operasinya. Karena berhenti operasi, maka PKS tersebut tidak membeli TBS petani.

"Saat itu ada empat PKS yang menghentikan operasinya," kata Bambang.

Menurut Bambang, PKS yang mempunyai kontrak dengan buyer CPO, tangkinya tidak penuh, masih ada space sekitar 30%.

"Tapi tetap mengkhawatirkan karena ekspor sendiri kan sebenarnya masih tersendat. Itulah yang mengakibatkan harga TBS belum stabil," katanya.



Simak Video "Bukan Larangan Ekspor CPO, Mendag: Tapi Pencatatan"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT