ADVERTISEMENT

Tekan Konsumsi Rokok Tak Cukup Hanya dengan Cukai, Begini Solusinya

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 18 Jul 2022 15:35 WIB
Tarif cukai & harga jual eceran rokok 2022
Foto: Infografis detikcom/M Fakhry Arrizal: Tarif cukai & harga jual eceran rokok 2022
Jakarta -

Hingga saat ini, upaya pemerintah menekan konsumsi rokok terkesan masih fokus pada metode konvensional seperti pengenaan dan kenaikan tarif cukai rokok. Padahal, ada sejumlah langkah lain yang bisa ditempuh pemerintah.

Penanganan masalah rokok memerlukan kesadaran masyarakat dan kebijakan tepat dengan perumusan yang berdasarkan dari hasil kajian ilmiah. Salah satu metode yang bisa diterapkan dan diteliti lebih jauh adalah pengurangan bahaya melalui produk tembakau alternatif.

Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo menekankan pentingnya kajian ilmiah terkait pengurangan bahaya rokok guna membantu pemerintah menjawab permasalahan rokok yang belum terselesaikan hingga saat ini. Hal tersebut dikarenakan strategi kebijakan yang dinilai belum berkembang.

"Penurunan prevalensi perokok dewasa dapat dilakukan dengan cara mempertimbangkan hasil kajian ilmiah terkini, khususnya dari dalam negeri," kata Bimmo dalam keterangannya, Senin (11/7/2022).

Salah satu fokus yang bisa dikaji dalam upaya pengurangan bahaya rokok ini adalah produk tembakau alternatif seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun kantong nikotin. Dalam kajian yang dilakukan bersama mitranya, KABAR menemukan bahwa profil risiko produk tembakau alternatif lebih rendah bila dibandingkan dengan rokok.

Temuan ini sejalan dengan kajian ilmiah yang dilakukan sejumlah peneliti seperti Profesor Riccardo Polosa dari University of Catania yang berjudul Safety Evaluation and Risk Assessment of Electronic Cigarettes as Tobacco Cigarette Substitutes: A Systematic Review.

Dengan mempertimbangkan serangkaian hasil riset tersebut, Bimmo mendorong agar pemerintah juga turut melakukan kajian yang lebih mendalam dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi, swasta, masyarakat, lembaga nirlaba, dan media. Hasil penelitian nantinya bisa dijadikan acuan untuk membentuk kebijakan yang tepat dan proporsional terkait pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai pilihan untuk menekan risiko yang dihasilkan oleh rokok.

Tak hanya dalam pembentukan kebijakan, Bimmo meneruskan, keterlibatan berbagai pihak ini juga perlu dalam rangka diseminasi informasi faktual yang berdasarkan kajian ilmiah. Dengan demikian, kesadaran masyarakat akan risiko bahaya rokok semakin meningkat seiring hadirnya produk tembakau alternatif yang dapat membantu mereka beralih dari kebiasaannya.

"Kami meyakini keterlibatan berbagai pihak melalui sinergi hexahelix yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, LSM, dan media dapat berperan aktif dalam perumusan regulasi produk tembakau alternatif," kata Bimmo.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT