ADVERTISEMENT

Zulhas Mau Harga Sawit di Atas Rp 2.000/Kg, Caranya?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 22 Jul 2022 10:37 WIB
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan alias Zulhas mengatakan dirinya masih memiliki satu pekerjaan rumah (PR), yakni memastikan harga tandan buah segar (TBS) sawit di atas Rp 2.000/kilogram.

"Tugas saya itu dan menteri-menteri lain diperintah pak Presiden agar kita bekerja keras lakukan segala upaya agar yang sekarang itu TBS. Itu harus bisa di atas Rp 2.000/kg," ujarnya kepada awak media, di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor, Jumat (22/7/2022).

Zulhas mengatakan, saat ini harga TBS belum naik lantaran pasokan CPO di pabrik masih melimpah, totalnya sebanyak 7 juta ton. Berdasarkan data dari Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) harga TBS per 20 Juli rata-rata Rp 1.495/kg.

"Tadi sampai hari ini stok di tangki-tangki 7 juta ton. Rupanya itu biang keladinya sehingga harga TBS nggak bisa naik ke atas karena pabrik belum kosongkan tangki," ucapnya.

Oleh sebab itu, pemerintah melakukan berbagai upaya. Pertama menghapus pungutan ekspor (PE). Penghapusan ini telah disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui kebijakannya dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 115 Tahun 2022. Kebijakan menghapus PE menjadi Rp 0 hanya sampai 1 Agustus 2022.

"Kedua, dasar perhitungan (TBS sawit) dulu bulanan sekarang 2 mingguan. Jadi harga lebih terukur, 2 minggu dihitung," jelas Zulhas.

Upaya ketiga, jatah ekspor CPO akan ditambah lagi. Penambahannya, misalnya pengusaha sawit ekspor CPO 1.000 ton maka bisa ekspor 5.000 ton, nah jatah itu bertambah lagi menjadi 7.000 ton dengan jumlah pasokan ke dalam negeri 1.000 ton juga.

"Pengali DMO itu kemarin 1 kali 5 sekarang 1 kali 7 kalau 1.000 ton bisa ekspor 8.400 ton," tutupnya.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT