ADVERTISEMENT

RI Butuh Pesawat Kecil Buat Jangkau Wilayah Terpencil

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 14 Sep 2022 07:45 WIB
Komisaris Utama PT Regio Aviasi Industri Ilham Akbar Habibie
Foto: Zaky 20detik
Jakarta -

Putra BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie mengungkapkan Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan pesawat baling-baling yang ukurannya kecil.

Hal ini karena menurut dia, banyak bandara di Indonesia yang landasannya pendek. "Kalau baling-baling cuma butuh 1.400 meter, kalau pakai Boeing minimal 2.500 mter," kata dia dalam Youtube Ilham Habibie, dikutip, Selasa (13/9/2022).

Ilham menjelaskan pesawat baling-baling ini juga lebih efisien dan hemat bahan bakar dibandingkan jet. Memang teknologi yang digunakan untuk pesawat jenis N250 ini berbeda dan menggunakan turboprop jadi di dalamnya menggunakan turbin.

Dia menambahkan untuk pesawat baling-baling ini memang lebih pelan jika dibandingkan dengan pesawat besar. Tapi untuk meghubungkan ke kota-kota kecil atau menengah bisa lebih maksimal.

"Misalnya dari Jakarta ke Makassar dengan jet itu membutuhkan waktu 2 jam, dengan baling-baling 3 jam lebih itu tidak efisien. Memang dibutuhkan pesawat yang lebih cepat, tapi lebih boros," jelas dia. Menurut Ilham dari segi kelayakan bisa lebih ekonomis karena jumlah penumpang 50 orang.

Ia menjelaskan, terkait nasib pesawat R80. Dia mengungkapkan jika harus ada yang diubah dengan memperhatikan energi terbarukan.

Saat ini memang masih menggunakan bahan bakar fosil yang berpotensi mencemari lingkungan.

"Ke depan kita lihat ada teknologi hibrida, maksudnya apa? Memang sekarang kita terpaksa masih menggunakan teknologi bahan bakar fosil. Tapi sebagian kita sudah menggunakan teknologi electric menggunakan baterai dan diisi dengan teknologi terbarukan," kata dia.

Ada juga kemungkinan terkait sumber energi baru yang sedang dibahas untuk pesawat R80, misalnya dengan mensubstitusikan teknologi bahan bakar kerosene dengan hidrogen.

"Ini semuanya masih dalam percobaan, kalau hidrogen itu memang jauh lebih bersih. Karena kita pakai hidrogen tersebut keluarnya paling uap, bukan emisi CO2. Itu akan positif untuk mencegah pemanasan dunia kita dengan adanya efek rumah kaca di mana emisi karbondioksida berlebih akan berdampak pada hidup kita," jelas dia.

Pada 2017, R80 masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun, pada 2020 pemerintah mencoret proyek pesawat Habibie ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pemberitaan detikcom menyebutkan proyek pesawat R80 dan N245 dicoret dan dialihkan menjadi teknologi drone yang dianggap lebih cocok dengan situasi saat ini dan pengembangannya dimulai PTDI.

(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT