Pengusaha Cerita Cashflow Sekarat, Industri Tekstil hingga Sepatu 'Berdarah-darah'

ADVERTISEMENT

Pengusaha Cerita Cashflow Sekarat, Industri Tekstil hingga Sepatu 'Berdarah-darah'

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 08 Nov 2022 14:32 WIB
Sejumlah pekerja menjahit pola saat memproduksi sepatu lokal di Pabrik Sepatu Aerostreet, Wonosari, Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (17/4). Dalam sehari pabrik sepatu dengan merek lokal Aerostreet itu dapat memproduksi sebanyak 5.000 pasang sepatu
Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan industri (KADIN) Indonesia menceritakan kondisi usaha pasca pandemi COVID-19. Alih-alih mengalami pemulihan, situasinya justru mengkhawatirkan karena terdampak pelemahan ekonomi global.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Adi Mahfudz mengatakan kondisi arus kas dunia usaha saat ini dalam keadaan stagnan. Dia menyebut tidak mudah menuju pemulihan saat dunia sedang dihadapkan ketidakpastian seperti saat ini.

"Jadi cashflow kita stagnan, cashflow manajemen kami juga tidak bergerak. Walaupun inflasi (menurun) dan pertumbuhan ekonomi sangat bagus, kami dari dunia usaha dan dunia industri masih agak megap-megap," kata Adi dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (8/11/2022).

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Anton J Supit mengatakan ancaman resesi yang terjadi di sejumlah negara maju membuat permintaan terhadap ekspor menurun. Efeknya, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan persepatuan mengalami penurunan order.

"Resesi dunia yang sudah terjadi terutama di Uni Eropa dan Amerika Serikat, efeknya langsung kami di persepatuan dan tekstil. Itu di persepatuan order menurun 50% rata-rata, ada yang 70%, ada yang kurang dari itu tergantung pasarnya di mana," jelasnya.

Tidak hanya di industri tekstil dan persepatuan, sektor karet pun mengalami penurunan permintaan hingga 40%. Di samping itu, sektor otomotif disebut masih bergairah.

"Kalau permintaan dunia menurun, lantas karet rakyat tidak akan terserap maksimal, ini juga akan menimbulkan problem baru lagi. Elektronik juga menurun dan saya kira yang lain walaupun ada kabar gembira bahwa otomotif kita khusus ekspor ke Timur Tengah dan Asia lainnya juga naik," bebernya.

Selain masalah yang terjadi secara global, pandemi COVID-19 yang mempercepat proses digitalisasi juga menjadi tantangan buat lapangan kerja. Pasalnya pengusaha akan lebih memikirkan efisiensi.

"Itu terasa sekali. Memang investasi secara makro naik dari segi angka, tapi kalau kita lihat penyerapan tenaga kerja melalui BKPM, kalau beberapa tahun lalu rasio Rp 1 triliun masih mempekerjakan 3.000-an orang lebih, sekarang Rp 1 triliun kira-kira 1.000 orang lebih," tandasnya.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT