Menperin Sayangkan Nasib Sritex, Singgung Opsi Penyelamatan

Menperin Sayangkan Nasib Sritex, Singgung Opsi Penyelamatan

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 20 Jan 2026 17:59 WIB
Menperin Sayangkan Nasib Sritex, Singgung Opsi Penyelamatan
Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Jakarta -

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyayangkan jika PT Sri Rejeki Isman atau Sritex harus dilikuidasi. Agus menilai perlu ada konsep baru dalam pengelolaan Sritex agar perusahaan tersebut bisa diselamatkan.

Sebagai informasi, Sritex telah diputus pailit oleh PN Niaga Semarang pada Oktober 2024 karena gagal bayar utang.Dalam praktiknya, status pailit pada umumnya akan berujung pada likuidasi aset.

"Sritex itu sayang kalau memang harus kita likuidasi, sayang. Jadi memang kalau bisa kita selamatkan dengan konsep ownership yang berbeda saya kira lebih bagus," ujar Agus saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini pemerintah sendiri berencana membuat Badan Usaha Milik Negara(BUMN) khusus menggarap tekstil. Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, pembentukan BUMN tekstil untuk menggantikan kegiatan ekonomi PT Sritex, meskipun perusahaannya sudah tidak bisa diselamatkan.

ADVERTISEMENT

Dengan kata lain, kegiatan ekonomi yang selama ini dijalankan Sritex bisa diintervensi pemerintah lewat BUMN agar tetap berjalan. Apalagi sebelumnya Sritex tercatat mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan.

"Jadi ini sedang proses, kita harapkan dalam waktu dekat semua proses sudah bisa diselesaikan, sehingga PT Sritex bagaimanapun kita harus selamatkan. Dalam artian kegiatan ekonominya tetap harus berjalan karena di sana kurang lebih mempekerjakan 10.000 karyawan dan cukup besar kegiatan ekonomi yang dihasilkan," papar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (19/1).

Kembali ke Menperin, ia sempat menanggapi rencana pemerintah membentuk BUMN khusus sektor tekstil. Menurut Agus, rencana itu merupakan upaya pemerintah mengembangkan industri tekstil dari hulu ke hilir.

BUMN ini akan disuntik modal awal sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 101,17 triliun (kurs Rp 16.863). Dana ini akan disalurkan langsung oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara).

"Ya saya kira itu kan bagian dari pemerintah untuk mengembangkan industri tekstil dari dulu sampai ke, dari dulu intermediate sampai ke hilir," tutupnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads