Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 berada di angka 52,12. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang berada di 51,90.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan nilai IKI Januari tahun ini juga tercatat lebih tinggi jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 53,10. Menunjukkan kinerja yang positif dari berbagai subsektor industri di awal tahun ini.
"Dibandingkan dengan bulan Desember 2025, IKI naik sebesar 2,22 poin.
Dibandingkan dengan IKI Januari tahun lalu 2025, IKI naik 1,02 poin," kata Febri dalam konferensi pers yang disiarkan secara online di YouTube Kemenperin, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kenaikan nilai IKI awal tahun ini disebabkan oleh sentimen positif sekaligus peningkatan kinerja untuk memenuhi kebutuhan Hari Raya Idul Fitri 2026.
"Kami melihat atau menilai penyebab IKI Januari 2026 ini naik tinggi dibandingkan dengan IKI Desember 2025 adalah karena industri sedang mengintensifkan produksi untuk merespon atau memenuhi kebutuhan Hari Raya Idul Fitri dan bulan Ramadan serta Hari Raya keagaman lainnya," ujarnya.
Ia menjelaskan dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 20 subsektor mengalami ekspansi dan 3 subsektor mengalami kontraksi. Sementara subsektor yang ekspansi ini memiliki kontribusi sebesar 94,7% terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan III 2025.
"Nilai IKI 54,12 itu berasal atau disumbang oleh 20 subsektor yang ekspansif. di mana share PDB yang 20 subsektor ini nilainya sebesar 94,7%. Itu artinya yang ekspansif ini adalah sektor-sektor yang besar," jelas Febri.
Secara rinci ia mengatakan dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Kendaraan Bermotor, Trailer, Dan Semitrailer (KBLI 29) dan Industri Mesin Dan Perlengkapan YTDL (KBLI 28).
Sementara 3 subsektor yang mengalami kontraksi adalah Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (KBLI 15), Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus (tidak termasuk furnitur) serta Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya (KBLI 16), serta terakhir dari Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik (KBLI 26).
"Kalau kita lihat berdasarkan variable komponen pembentuk IKI, nilai IKI pesanan baru mengalami peningkatan sebesar 2,51 poin atau mencapai 55,27," ucapnya.
Kemudian nilai IKI variabel produksi juga mengalami peningkatan sebesar 6,45 poin dan berada pada titik ekspansi menjadi 54,86 pada Januari 2026 ini. Sebaliknya, persediaan produk mengalami perlambatan sebesar 4,85 poin atau mencapai 50,14.
"Perlu kami garis bawahi di sini bahwa untuk variable produksi sudah 7 bulan berturut-turut mengalami kontraksi, dan pada Januari 2026 ini komponen variable produksi itu sudah masuk pada status ekspansi," terangnya.
Lebih lanjut ia mengatakan proporsi industri yang menyatakan optimistis pada Januari 2026 ini mencapai 72,5%, naik lebih tinggi daripada bulan Desember 2025 sebesar 71,8%. Sementara mereka yang menjawab tetap sebesar 23%, turun sebesar 0,5% jika dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 23,5%.
"Sementara yang menjawab pesimis itu turun sebesar 0,2%, yakni 4,5% pada Januari 2026, turun dari 4,7% dari Desember 2025," paparnya.
(igo/fdl)











































