Perkebunan kelapa sawit kerap dituding jadi biang kerok parahnya bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Kebetulan, perkebunan sawit memang banyak berada di kawasan Sumatera bagian utara.
Anggapan ini ditepis oleh lembaga think-tank Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI). Menurut Direktur Eksekutif PASPI Tungkot Sipayung tidak benar perkebunan kelapa sawit menyebabkan banjir. Tungkot bilang tidak ada kaitannya perkebunan sawit dengan banjir bandang yang terjadi. Menurutnya, banjir bandang terjadi murni karena anomali cuaca yang disebabkan oleh perubahan iklim global.
"Seperti yang ditulis dalam buku saya, Mitos Vs Fakta itu, saya telah mendalami ini sejak 20 tahun yang lalu, tidak ada kaitan antara banjir dengan sawit. Tidak ada kaitan antara banjir bandang dengan sawit. Dan tidak ada kaitan antara kekeringan dengan sawit juga," ujar Tungkot dalam diskusi di Movenpick Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peristiwa banjir bandang, kekeringan, itulah persoalan perubahan iklim global. Perubahan iklim global. Itu akibat daripada pemenasan global," katanya menekankan.
Dia menjelaskan emisi karbon di dunia telah membuat atmosfer makin menipis. Hal ini membuat sinar matahari masuk ke permukaan bumi dan membuat udara makin panas. Lebih jauh, hal itu membuat udara menjadi tidak beraturan dan pada akhirnya menimbulkan anomali iklim.
"Kenapa terjadi pemenasan global? Karena emisi karbon dioksida dari permukaan bumi ke atmosfer bumi itu meningkat dengan cepat, sehingga sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi terperangkap di situ membuat udara makin panas. Inilah yang membuat akhirnya udara bumi itu bergerak tidak beraturan yang kita sebut dengan anomali iklim," papar Tungkot.
Dia melanjutkan soal bencana longsor yang banyak terjadi di Sumatera Barat dan Sumatera Utara paska hujan ekstrim akhir tahun lalu, juga bukan disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, secara teknis tanah di sekitar Bukit Barisan yang banyak lokasi longsornya tidak cocok untuk dipakai membuat perkebunan sawit.
"Kemarin di Sumatera Barat, Sumatera Utara, itu berbeda apa yang dipahami dengan apa yang terjadi di lapangan. Jadi, punggung Bukit Barisan secara teknikal itu adalah suatu lapisan yang top strain-nya sangat tipis. Dan sawit itu tidak ada di atas tinggi. Yang di atas tinggi itu adalah hutan," ujar Tungkot.
"Nah, ini hutan kita yang di punggung Bukit Barisan itu, itu ternyata tidak seperti yang kita bayangkan hutan itu besar-besar, dia hanya pendek-pendek dan tidak terlalu besar. Saya orang sana, jadi saya paham," lanjutnya.
Lebih lanjut di lokasi yang sama ada juga lapisan batu-batuan cadas yang tidak mampu menahan air. Ketika pengakaran tak bisa menahan air, maka terjadilah longsor.
"Nah, itu di bawahnya itu adalah lapisan batu-batuan. Nah, yang sangat cadas dan tidak bisa ditembus oleh perakaran. Ketika hujan melebihi yang normal, itu langsung menyeret ke bawah. Seperti itu yang terjadi," ujar Tungkot.
Tungkot melanjutkan apabila sawit dituduh sebagai biang kerok banjir bandang, dia mempertanyakan mengapa banjir yang sama juga terjadi di kawasan yang tidak punya kebun sawit. Seperti misalnya di Pati, Semarang, Sukabumi, Surabaya, bahkan Jakarta.
"Itu daerah-daerah terakhir yang saya katakan itu tidak ada sawit. Tapi terjadi juga banjir bandang," ujar Tungkot.
Sementara itu, di Riau hingga beberapa kawasan di Kalimantan juga tidak ada bencana banjir bandang terjadi. Padahal perkebunan sawit banyak berada di daerah-daerah tersebut.
"Jadi secara fakta, tidak ada bukti juga yang mengatakan bahwa Riau misalnya, sawitnya banyak, tidak terjadi banjir bandang. Kalimantan juga, tidak terjadi banjir bandeng," sebut Tungkot.
Lihat juga Video: Satgas PKH Kantongi Identitas Perusahaan Biang Kerok Bencana Sumatera











































