Kebun Sawit Milik Negara Dijarah, Rugi Tembus Miliaran

Kebun Sawit Milik Negara Dijarah, Rugi Tembus Miliaran

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 17 Jun 2026 21:06 WIB
Ilustrasi Sawit
Ilustrasi kebun sawit.Foto: iStock
Jakarta -

Hasil kebun sawit milik negara yang dikelola oleh PT PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) di wilayah Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, dijarah. Dalam beberapa bulan terakhir, hilangnya tandan buah segar (TBS) akibat aktivitas penjarahan yang diduga dilakukan secara terorganisir telah menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan operasional perkebunan.

Kepala Sub Bagian Kesekretariatan dan Humas Abdul Chalid membenarkan aksi penjarahan tersebut. Ia menyampaikan manajemen sangat prihatin terhadap dampak yang ditimbulkan akibat aksi penjarahan tersebut.

"Memang benar aksi penjarahan di Kebun Cot Girek telah berdampak signifikan terhadap pendapatan perusahaan sebagai perusahaan negara dan juga masyarakat setempat yang menjadi petani sawit sekaligus pekerja kebun. Kami cukup prihatin atas kondisi tersebut dan berharap permasalahan ini dapat segera diselesaikan sehingga produktivitas kebun kembali pulih dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga," ujar Abdul dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (17/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak perusahaan menegaskan penyelesaian persoalan ini harus dilakukan melalui mekanisme hukum yang berlaku dengan tetap mengedepankan stabilitas sosial dan kondusifitas masyarakat. Perusahaan juga menyatakan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan guna mencari solusi yang berkelanjutan.

Penguatan penegakan hukum dinilai menjadi faktor penting untuk menghentikan praktik penjarahan yang merugikan negara dan masyarakat. Selain menjaga aset negara, langkah tersebut juga diperlukan untuk memberikan kepastian bagi ribuan pekerja dan keluarga yang menggantungkan kehidupan mereka pada keberlangsungan usaha perkebunan.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, aksi penjarahan tersebut tidak hanya menggerus produksi perusahaan, tetapi juga memukul kesejahteraan ribuan pekerja dan keluarga petani sawit yang menggantungkan hidup dari aktivitas perkebunan negara. Hingga kini, kondisi keamanan di sejumlah areal kebun masih menjadi tantangan karena pelaku penjarahan disebut masih berkeliaran di lapangan.

Tidak hanya kehilangan hasil panen, perusahaan juga menghadapi hambatan dalam menjaga produktivitas areal akibat meningkatnya risiko keamanan bagi pekerja di lapangan. Situasi ini membuat upaya pemulihan produksi berjalan lebih lambat karena sebagian sumber daya harus dialihkan untuk pengamanan aset perkebunan.

Dari sisi ekonomi, dampak yang ditimbulkan tidak dapat dianggap remeh. Kehilangan TBS dalam jumlah besar berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan, berkurangnya kontribusi terhadap penerimaan negara, serta terganggunya target produksi yang telah ditetapkan.

Sebagai salah satu aset strategis negara, keberlangsungan operasional perkebunan sawit memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian daerah dan menciptakan efek berganda bagi masyarakat sekitar.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

Di balik angka kerugian tersebut, terdapat dampak sosial yang dirasakan langsung oleh para pekerja. Menurunnya produksi menyebabkan berkurangnya premi dan insentif yang selama ini menjadi komponen penting pendapatan pekerja kebun. Kondisi ini membuat daya beli keluarga pekerja ikut tertekan, terutama bagi mereka yang menggantungkan sebagian besar penghasilannya pada kinerja produksi kebun.

Salah seorang karyawan Kebun Cot Girek, M. Yusuf, mengaku merasakan langsung dampak menurunnya produksi akibat maraknya penjarahan hasil kebun. Menurutnya, berkurangnya hasil panen tidak hanya mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan, tetapi juga berdampak pada pendapatan para pekerja yang selama ini menggantungkan sebagian penghasilannya dari premi dan insentif produksi.

"Kami yang bekerja di kebun sangat merasakan dampaknya. Ketika produksi turun karena buah banyak hilang di lapangan, perusahaan tentu kehilangan pendapatan. Akibatnya, premi yang biasanya menjadi tambahan penghasilan bagi karyawan juga ikut berkurang. Bagi kami yang memiliki keluarga untuk dinafkahi, kondisi ini cukup berat karena kebutuhan hidup terus berjalan sementara pendapatan tidak lagi seperti sebelumnya," ujar Yusuf.

Ia berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga aset perkebunan negara agar produksi kembali normal dan kesejahteraan pekerja dapat pulih.

"Kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan hasil kebun bisa dinikmati sebagaimana mestinya untuk kepentingan perusahaan, pekerja, dan masyarakat sekitar. Kalau kondisi ini terus berlangsung, yang paling merasakan dampaknya bukan hanya perusahaan, tetapi juga keluarga-keluarga karyawan yang hidup dari sektor perkebunan," terangnya.

Halaman 2 dari 2
(hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads