Manufaktur RI Lagi Tertekan, Ini 4 Penyebabnya

Manufaktur RI Lagi Tertekan, Ini 4 Penyebabnya

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 30 Jun 2026 21:04 WIB
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin tekstil dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini berlangsung di tengah kondisi global yang masih dinamis, ditandai ketegangan geopolitik, disrupsi
Ilustrasi Manufaktur.Foto: Rifkianto Nugroho/detikfoto
Jakarta -

Sektor manufaktur menghadapi tekanan yang lebih berat. Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, tantangan industri datang dari dua sisi sekaligus, yakni produksi dan permintaan masyarakat.

Pertama, dari sisi produksi, industri harus menghadapi kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi kondisi geopolitik global. Selain itu, pemadaman listrik di sejumlah wilayah turut mengganggu operasional pabrik yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.

"Dari sisi produksi, pertama itu adalah kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah karena dampak geopolitik. Ditambah dengan pemadaman listrik. Ada sebagian industri yang operasionalnya itu sepenuhnya bergantung kepada listrik. Tiba-tiba listriknya padam, mereka berhenti produksi karyawannya dipulangkan," jelas Febri saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua, tekanan dari tingginya harga gas industri, khususnya gas hasil regasifikasi LNG yang digunakan sebagai bahan baku maupun sumber energi. Meskipun, sudah ada keputusan penurunan harga LNG hasil regasifikasi dari US$ 23 menjadi US$ 13 per MMBTU.

"Penurunan itu adalah angin segar bagi industri, agar industri bisa semakin produktif, meningkatkan utilisasi produksi dan meningkatkan daya saing produknya. Dan tentu kami akan terus memantau implementasinya," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Ketiga, industri juga melihat adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat. Kenaikan harga bahan pokok dan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, dinilai mengurangi daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur.

"Kemarin juga ada kenaikan harga BBM non-subsidi. Nah, pada konsumen produk industri yang biasanya mengkonsumsi BBM non-subsidi, berarti kan ada tekanan pada pengeluaran rumah tangganya. Nah, itu menyebabkan ruang daya beli masyarakat untuk membeli produk manufaktur itu juga berkurang. Meskipun kami tetap optimis bahwa itu akan bisa tetap terkendali ke depan," beber Febri.

Keempat, meningkatnya pesimisme pelaku usaha dalam enam bulan ke depan setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75%. Tingkat optimisme pelaku usaha terpantau berada di level 68,6% atau turun 1,3% dibanding bulan sebelumnya.

Tekanan industri beriringan dengan kabar PHK di sejumlah sektor. Febri menyebut pihaknya terus memantau kondisi manufaktur melalui Indeks Kepercayaan Industri (IKI) untuk mendeteksi subsektor yang menghadapi tantangan maupun yang masih tumbuh positif.

Jika ditemukan industri yang mengalami tekanan berat, Kemenperin akan memanggil atau mendatangi perusahaan terkait guna mengetahui persoalan yang dihadapi, khususnya dari sisi produksi. Pemerintah juga menyiapkan berbagai bentuk dukungan sesuai kewenangan kementerian.

Menurut Kemenperin, PHK merupakan langkah terakhir yang seharusnya dihindari. Berbagai mitigasi masih bisa dilakukan, mulai dari penyelesaian persoalan bahan baku, teknologi, hingga aspek pendanaan, meski masalah internal perusahaan seperti sengketa keuangan tetap berada di luar kewenangan pemerintah.

"Kalau soal ketenagakerjaan bukan di kami. Terkait produksi dan kalau misalnya ada faktor-faktor produksi yang mengganggu kami akan menawarkan bantuan. Bantuan apa dari Kemenperin yang bisa kami lakukan atau kami berikan pada industri terkait agar gangguan pada proses produksi itu bisa teratasi dengan baik," tutup Febri menjelaskan.

(ily/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads