PMI Manufaktur RI Turun, PHK & Inflasi Jadi Sorotan

PMI Manufaktur RI Turun, PHK & Inflasi Jadi Sorotan

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 01 Jul 2026 10:40 WIB
Ilustrasi manufaktur
Foto: dok. Unsplash/Arno Senoner
Jakarta -

Kinerja sektor manufaktur Indonesia kembali terkontraksi pada Juni 2026. Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global berada di level 46,9 pada Juni 2026, turun dari 50,0 pada Mei 2026.

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan penurunan itu dipicu oleh turunnya permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir dengan laju tercepat dalam setahun.

"Kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun," kata Bhatti dalam laporannya, Rabu (1/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pelaku industri mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan harga. Penurunan permintaan domestik juga diikuti melemahnya pesanan ekspor.

"Bukti anekdotal mengarah pada penurunan permintaan dari pasar luar negeri karena kenaikan harga. Penurunan permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak Agustus 2021," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

Lesunya permintaan membuat perusahaan mengurangi produksi selama empat bulan berturut-turut dan menjadi yang paling tajam sejak April 2025. Kondisi tersebut turut berdampak pada pasar tenaga kerja.

"Laju PHK tergolong solid dan merupakan yang paling besar sejak September 2021. Pada saat yang sama, pembelian input turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak Agustus 2021," jelasnya.

Di sisi lain, tekanan biaya justru semakin meningkat. Inflasi harga input pada Juni 2026 tercatat sebagai yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei sejak dimulai pada April 2011. Kenaikan biaya terutama dipicu oleh mahalnya harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar.

Akibatnya, produsen menaikkan harga jual produknya dengan laju tercepat dalam hampir 13 tahun atau sejak September 2013. Tekanan harga tersebut juga menyebabkan gangguan rantai pasok, ditandai dengan waktu pengiriman pemasok yang kembali memanjang selama sembilan bulan berturut-turut.

"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran. Sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," imbuhnya.

Meski demikian, prospek industri untuk 12 bulan ke depan dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam tiga bulan terakhir karena mereka berharap tekanan harga mulai mereda sehingga dapat mendorong penjualan dan pertumbuhan output pada periode mendatang.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads