Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan PT Modiva International untuk mengembangkan hasil riset antiperspiran berbahan alami. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman oleh Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi (DPRI), BRIN R. Hendrian dan Direktur PT Modiva International Wilson Wunandar.
Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Mulyadi Sinung Harjono, mengatakan inovasi Phyto Alun dan Cyto Tanin Responsive Complex berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan antiperspiran alami. Menurutnya, pemanfaatan sumber daya alam Indonesia dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi industri nasional dalam menghasilkan produk yang berbeda dari produk sejenis di pasar global.
"Pengembangan bahan alami tersebut menjadi peluang bagi industri nasional untuk menghasilkan produk dengan keunggulan berbasis sumber daya yang berbeda dari produk industri asing. Namun, proses pengembangannya memerlukan sejumlah tahapan riset, pengujian, dan hilirisasi yang perlu dilakukan melalui kolaborasi," kata Sinung dalam keterangan tertulis, Kamis (13/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BRIN berperan pada aspek riset dan pengujian, sedangkan mitra industri diharapkan mendukung proses hilirisasi hingga hasil riset dapat diterapkan dan menjangkau pasar.
"Kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti pada pengembangan antiperspiran, tetapi dapat diperluas secara bertahap ke inovasi lainnya sehingga memberikan manfaat bagi kedua pihak dan mendukung kemajuan industri manufaktur nasional," ujarnya.
Direktur PT Modiva International Wilson Wunandar menilai kemajuan suatu negara ditentukan oleh kemampuan berinovasi melalui riset dan kolaborasi. Maka dari itu, kerja sama dengan BRIN menjadi langkah strategis untuk mengembangkan produk berbasis kekayaan alam Indonesia.
Wilson menyampaikan kerja sama tersebut akan berfokus pada penelitian bahan alami untuk produk perawatan tubuh, khususnya deodoran dan antiperspiran. Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan bahan alami yang aman, efektif, dan berdaya saing global.
Ia menambahkan pengalaman produk lokal Diorex yang berhasil meraih peringkat pertama sebagai top brand menjadi motivasi untuk terus mengembangkan produk melalui dukungan riset dan ilmu pengetahuan.
"Pasar deodoran dan antiperspiran global diperkirakan mencapai sekitar US$ 30 miliar dan masih didominasi bahan sintetis. Karena itu, pengembangan bahan alami Indonesia memiliki peluang besar untuk menghadirkan produk yang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi pasar dunia," ujar Wilson.
(ily/ara)









































