Tambak Udang Raksasa Dibangun di NTT, Telan Biaya Rp 7,2 T

Tambak Udang Raksasa Dibangun di NTT, Telan Biaya Rp 7,2 T

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2026 15:25 WIB
KKP Mulai Pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu
Foto: KKP
Jakarta -

Pemerintah melaksanakan pengembangan proyek perikanan di Nusa Tenggara Timur. Salah satunya adalah Tambak Udang Terintegrasi atau Integrated Shrimp Farming (ISF) di Waingapu. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2027 dan mulai beroperasi pada 2028.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan setelah beroperasi tambak udang tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 52.800 ton udang per tahun sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

"Ketika beroperasi penuh, ISF Waingapu ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 52.800 ton udang per tahun, yang akan menambah pasokan udang nasional sekaligus memperkuat pemenuhan kebutuhan pasar domestik dan ekspor," jelas Qodari dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Qodari mengatakan ISF Waingapu dibangun di atas lahan seluas 2.150 hektare (ha), dengan 1.361 ha di antaranya akan digunakan untuk area tambak dan fasilitas pendukung. Lokasi tersebut dipilih sebagai bagian dari upaya mendorong pemerataan pembangunan di NTT yang masih menghadapi tantangan kemiskinan.

ADVERTISEMENT

Program tersebut memiliki nilai investasi sebesar US$ 500 juta atau sekitar Rp 7,2 triliun, yang mencakup pembangunan kolam budi daya, tandon, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) klaster, jaringan intake, fasilitas karantina, jalan produksi, serta IPAL utama.

Hingga 29 Juli 2026, Qodari mengatakan progres pembangunan fisik telah mencapai sekitar 10% dengan melibatkan tenaga kerja lokal. Qodari melanjutkan bahwa kehadiran tambak tersebut tidak hanya akan meningkatkan produksi udang nasional, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi berantai.

Dari sisi ketenagakerjaan, dia menyebut ISF Waingapu diproyeksikan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja di sepanjang rantai industri, mulai dari sektor hulu, kegiatan produksi (on farm), hingga industri hilir. Sebanyak 3.000 tenaga kerja di antaranya akan mendapatkan pelatihan sesuai kebutuhan industri udang terintegrasi.

Selain itu, dampak ekonomi lainnya juga diharapkan tumbuh melalui berbagai usaha pendukung, seperti fasilitas pembenihan (hatchery), pabrik pakan, cold storage, pabrik es, industri pengolahan udang, sektor transportasi, dan berbagai usaha lainnya.

Dia melanjutkan, pemerintah akan terus memperkuat program-program yang menyentuh langsung masyarakat pesisir dan desa, termasuk ISF Waingapu. Menurutnya, hal itu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya di sektor perikanan dan sumber protein.

(acd/acd)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads