Jangan Cuma Bisa Rakit, Begini Cara biar Motor Listrik RI Laku di Pasar

Jangan Cuma Bisa Rakit, Begini Cara biar Motor Listrik RI Laku di Pasar

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 10:45 WIB
Suasana diskusi detikcom Leaders Forum Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Hadir sebagai narasumber, Ketua Tim Kerja Industri KBLBB Direktorat IMATAP Kemenperin Patia Junjungan Monangdo, Ketua Bidang Teknologi EV Masa Depan & RND Periklindo Prabowo Kartoleksono dan CEO ALVA Purbaja Pantja.
CEO ALVA Purbaja Pantja / Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

CEO ALVA, Purbaja Pantja, mengatakan pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia memiliki karakteristik dan dinamika unik yang berbeda dibandingkan negara-negara lain. Untuk itu industri EV nasional harus fokus dalam mengembangkan manufaktur dalam negeri agar produk lebih relevan dengan masyarakat.

Purbaja menjelaskan untuk dapat bersaing dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, industri EV dalam negeri tidak bisa sekadar bergantung pada impor komponen atau perakitan siap pakai.

Dalam hal ini, ALVA memilih untuk mengendalikan proses secara mandiri, mulai dari tahap riset dan pengembangan (research and development/R&D) hingga produksi di fasilitas manufaktur lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menerapkan proses bisnis dari hulu ke hilir, mulai dari riset dan pengembangan hingga manufaktur lokal. Karena perilaku dan ekspektasi konsumen kendaraan listrik di Indonesia memiliki karakteristik yang unik dibanding negara lain," ujarnya dalam diskusi Detik Forum bertajuk 'Memperkuat Industri Kendaraan Listrik, Mendorong Ketahanan Energi'.

Menurutnya melalui pendekatan ini, industri dapat merancang kendaraan yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi jalan, pola pemakaian, serta daya beli konsumen di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Selain itu, dengan skema ini industri dapat mengontrol seluruh rantai pasok dan layanan. Sehingga perusahaan dapat menjamin kualitas produk, menghadirkan inovasi teknologi lokal, serta menyediakan dukungan purna jual yang dapat menjadi nilai tambah bagi konsumen.

"Tugas kami di OEM (Original Equipment Manufacturer) itu kita pastikan bahwa kita bisa memberikan nilai tambah pada saat konsumen itu melakukan keaktifannya. Ini yang akan terus kita lakukan ke depan," tegas Purbaja.

Purbaja menambahkan bahwa komitmen tersebut dapat lebih diperkuat dengan menjadikan masukan konsumen sebagai evaluasi berkelanjutan.

"Masukan-masukan dari konsumen kami, dari semua yang kita terima itu sebenarnya makanan kami. Karena dari itulah kita bisa improve, kita bisa memperbaiki diri, dan juga bisa memberikan yang lebih baik lagi ke konsumen," pungkasnya.

(igo/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads