Begini Rencana Besar Menperin Dongkrak Kontribusi Industri ke PDB Jadi 25%

Begini Rencana Besar Menperin Dongkrak Kontribusi Industri ke PDB Jadi 25%

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 16:26 WIB
Muhammad Sarmuji resmi menjalankan tugas sebagai Menteri Perindustrian setelah menerima serah terima jabatan dari Agus Gumiwang Kartasasmita di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (2/10/2026).Sarmuji sebelumnya dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Perindustrian di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), menggantikan Agus Gumiwang Kartasasmita. Pelantikan tersebut menjadi bagian dari perubahan susunan Kabinet Merah Putih.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji/Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menargetkan kontribusi sektor industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) meningkat menjadi 20% dalam dua tahun mendatang. Sementara untuk mencapai kontribusi sebesar 25%, pemerintah membutuhkan waktu yang lebih panjang.

Sarmuji mengatakan, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB saat ini berada di kisaran 19%. Menurutnya, peningkatan kontribusi sebesar 1% dalam dua tahun merupakan target yang cukup besar untuk dicapai.

"Nggak dalam waktu dekat juga, kalau 25% harus agak panjang. Kalau 20% mungkin bisa kita rencanakan ya dua tahun mungkin bisa. Karena 1% itu udah tinggi," kata Sarmuji dalam wawancara eksklusif bersama detikcom, dikutip Jumat (23/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mencapai target tersebut, Sarmuji menekankan pentingnya menciptakan ekosistem industri yang mampu menarik lebih banyak investasi ke sektor manufaktur. Salah satu langkah yang diperlukan adalah memberikan insentif dan kemudahan berusaha agar Indonesia dapat bersaing dengan negara lain.

ADVERTISEMENT

"Ya kita tadi kita harus menciptakan ekosistem yang bagus ya, mereka agar mau investasi di sektor manufaktur harus tumbuh. Itu membutuhkan kerjasama dengan lagi-lagi dengan kementerian lain apakah mereka bisa mendapatkan insentif yang memadai untuk bisa datang ke Indonesia," ujarnya.

Sarmuji menjelaskan, sejumlah negara telah menawarkan berbagai insentif untuk menarik investor, mulai dari fasilitas perpajakan hingga kemudahan perizinan. Menurutnya, Indonesia juga perlu memberikan fasilitas yang kompetitif agar tidak kalah dalam menarik investasi manufaktur.

"Negara lain memberikan insentif yang kuat ya, baik dari perpajakan, custom, terus kemudahan berusaha, perizinan yang baik dan lain sebagainya. Tentu itu harus kita imbangi, kemudahan-kemudahan itu harus kita imbangi, insentif itu harus kita berikan. Kalau nggak, ya mana orang mau datang ke Indonesia. Yang lain memberikan karpet merah yang luar biasa, mungkin karpet beludru, kita hanya memberikan tikar, ya nggak mau mereka," jelasnya.

Selain insentif, pemerintah berencana mengembangkan kawasan industri baru yang bersifat tematik dan berlokasi dekat dengan sumber bahan baku. Pengembangan kawasan industri tersebut akan difokuskan terutama di luar Pulau Jawa untuk mendorong pemerataan investasi dan pembangunan.

Sarmuji menegaskan, pemberian insentif dan pengembangan kawasan industri menjadi dua langkah penting untuk meningkatkan kontribusi manufaktur terhadap perekonomian nasional.

"Jadi, insentif dan konsentrasi kita untuk menumbuhkan kawasan industri itu menurut saya penting untuk kita lakukan," tutup Sarmuji.



(ily/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads