Follow detikFinance
Jumat, 03 Nov 2017 18:25 WIB

Roy Suryo Sebut Kereta Cepat Proyek 'Kecebong', Ini Kata Bappenas

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Majalengka - Politikus Partai Demokrat, Roy Suryo, menyindir proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (JKT-BDG). Roy menyebut proyek kereta cepat sebagai 'kecebong' alias kereta cepat bohongan.

Merespons hal tersebut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro, mengatakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung masih berjalan. Tahapan saat ini adalah pembebasan lahan dan ada yang tahap konstruksi.

"Intinya penentuan lokasi dan sebagaian pembebasan tanah sudah berlangsung dan mudah-mudahan pekerjaan konstruksi sudah bisa dimulai," kata Bambang di sela-sela pengecekan Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Jumat (3/11/2017).


Namun, Bambang mengatakan, untuk detail proses di lapangan ditangani Kementerian BUMN. Sedangkan terkait dana pinjaman yang tak kunjung cair, menurut Bambang, bukan masalah karena proyek ini merupakan patungan antara Indonesia dan China.

"Dana sebenarnya enggak issue karena ini kan join antara Indonesia dengan China. Jadi dua-duanya komit untuk menyalurkan ke sana," ujar Bambang.

Respons Rini

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno, menegaskan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung jalan, namun memang sempat menunggu beberapa tahapan teknis sebelum bisa membebaskan lahan. Contohnya, rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) nasional baru keluar akhir April 2017.

Selain itu, penetapan lokasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta baru keluar minggu ketiga September, dan dari Pemprov Jawa barat akhir September.


"Setelah itu baru kita bisa pembebasan lahan. Kita sekarang sudah 54% pembebasan lahan," terang Rini

Pemerintah juga akan membangun perumahan untuk warga di kawasan Halim yang harus direlokasi. Proses ini akan berjalan mulai November ini.

Sedangkan pinjaman dari China Development Bank rencananya akan cair bulan ini.

"Insya Allah pinjaman akan cair pertengahan November ini, yang US$ 1 miliar," tutur Rini. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed