Follow detikFinance
Senin, 20 Nov 2017 09:38 WIB

Bakal Ada Hunian Hingga Pusat Bisnis Dekat Stasiun MRT Jakarta

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Lamhot Aritonang Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - PT MRT Jakarta resmi ditugaskan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebagai operator utama kawasan Transit Oriented Development (TOD).

Penugasan tertuang dalam Pergub Nomor 140 Tahun 2017 tentang Penugasan Perseroan Terbatas Mass Rapid Transit Jakarta sebagai Operator Utama pengelola kawasan Transit Oriented Development Koridor Utara Selatan Fase 1 Mass Rapid Transit Jakarta.

Konsep TOD yang dikomandoi oleh MRT Jakarta merupakan pengembangan kawasan di sekitar stasiun MRT Jakarta. Pengembangan kawasan ini penting untuk meningkatkan nilai kawasan yang akan dipadati penumpang MRT Jakarta setiap harinya.

"Ada kenaikan transportasi publik, ada kenaikan penumpang ridership, yang kemudian punya implikasi kepada kenaikan kawasan, kenaikan wilayah ekonomi kawasan itu yang akan membuat kawasan itu dibangun menjadi lebih bagus," kata Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar saat berbincang dengan detikFinance di Kantor MRT Jakarta, pekan lalu.

Pengembangan kawasan sekitar stasiun MRT Jakarta salah satunya dilakukan dengan menyediakan hunian vertikal alias rumah susun. Pembangunan rumah susun diperkirakan dilakukan di bilangan Lebak Bulus, Fatmawati, dan Blok M.

"Rumah susun mungkin itu di Lebak Bulus, atau mungkin beberapa di Fatmawati kita akan lihat apakah di Blok M. Ini masih dikaji semuanya," tutur William.

Sedikitnya ada delapan kawasan TOD yang akan dikelola langsung oleh PT MRT Jakarta, antara lain Bundaran HI, Dukuh Atas, Setiabudi, Bendungan Hilir, Istora, Senayan, Blok M, dan Lebak Bulus. Pengembangan kawasan TOD diberikan kepada pemilik properti sekitar stasiun MRT Jakarta yang dikomandoi oleh PT MRT Jakarta.

"Properti ini tugasnya memberikan, membangun kawasan yang lebih bagus," ujar William.

Pembangunan kawasan TOD tidak melulu terkait rumah susun, pembangunan akses jalan yang ramah bagi pejalan kaki juga bagian dari pengembangan kawasan TOD. Selain itu, taman hingga pertokoan juga akan hadir untuk memenuhi kebutuhan para pejalan kaki dari stasiun MRT Jakarta ke perkantoran.

"Pasti taman, trotoar, akses pejalan kaki yang bagus menghubungkan antara seluruh stasiun yang ada, pasti ada publik bisa berinteraksi, ada plaza. Sehingga nilai kawasan betul-betul bagus," ujar William.

Dengan pengembangan kawasan TOD ini, pemerintah daerah mendapatkan tambahan penerimaan dari pajak dan MRT Jakarta mendapatkan dana dari pengelolaan kawasan oleh pemilik properti.

"Pemerintah dalam bentuk pajak, kemudian MRT dalam pengelolaan. MRT dalam bentuk biaya pengelolaan kawasan, interconnection fee, ada management fee," ujar William. (ara/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed