Kepala BPJT, Herry Trisaputra Zuna, mengakui adanya keterlambatan pada sejumlah ruas tol yang ditargetkan beroperasi. Faktor cuaca dan pembebasan lahan yang membutuhkan waktu lama menjadi hambatannya.
"Memang susahnya jalan tol itu tidak seperti beli mobil. Ada uang langsung bayar. Sebagai tambahan informasi, selain struggling, di luar faktor cuaca juga ada persoalan tanah," katanya dalam jumpa pers di Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (24/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan realisasi masih ada di angka 133 km, maka masih ada sekitar 240 km panjang jalan tol yang harus dikejar target pengoperasiannya. Untuk itu beberapa ruas yang sebelumnya direncanakan akan beroperasi pada Desember 2017, akan mengalami keterlambatan penyelesaian konstruksi karena pembebasan lahan tadi, sehingga diharapkan dapat dioperasikan pada triwulan I-2018.
"Kami masih ada waktu Desember. Untuk November ini ada Surabaya-Mojokerto dan Soreang-Pasir Koja yang sudah layak fungsi, tinggal peresmian. Kami kejar Solo-Ngawi dan Ngawi kertosono juga. Lalu tol di Lampung," ucapnya.
Berikut beberapa rencana jalan tol yang diperkirakan dapat dioperasikan sampai dengan Desember 2017:
- Surabaya-Mojokerto Seksi lB, ll, lll (Sepanjang-SS Krian) 15,4 km
- Soreang-Pasirkoja 8,1 km
- Solo-Ngawi (SS Solo-Widodaren) 53,7 km
- Ngawi-Kertosono Seksi I-lll (SS Ngawi-Wilangan) 56,5 km
- Bakauheni-Terbanggi Besar 13,9 km (Paket 1 Segmen Pelabuhan Bakauheni-SS Bakauheni dan Paket 2 Segmen SS Lematang-SS Kotabaru.
- Tol Akses Tanjung Priok 11 ,4 Km
- Tol Gempol Pasuruan Seksi l-A2 7,9 Km
- Tol Gempol-Pasuruan Seksi l-A1 7,8 Km
- Tol Kertosono-Mojokerto Seksi 2 19,9 Km
- Tol Semarang-Solo Seksi 3 17,5 Km
- Tol Palembang-lndralaya 7,4 Km
- Tol Medan-Binjai Seksi 2-3 10,45 Km
- Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi Seksi 1-6 42.10 Km
- Tol Bekasi-Cawang-Kp. Melayu Seksi lB & lC 8,4 Km











































