Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Herry Trisaputra Zuna, mengatakan kendala pengadaan lahan dan intensitas hujan yang cukup tinggi tahun ini membuat realisasi pekerjaan di lapangan tak bisa mencapai targetnya.
"Utamanya tanah tadi memang belum utuh. Bekerja sambil jalan. Seperti di Manado, sudah kerja sampai ujung, tanahnya mentok yang ke sebelah. Karena yang punya tidak mau. Disewa juga enggak mau. Kalau dia mau sewa, pasti disewa. Itu yang agak repot," katanya saat ditemui di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Jakarta, Jumat (24/11/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian juga untuk Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. Padahal progres seksi I Tol Bocimi yang sampai ke Cigombong saat ini sudah mencapai 70%.
"Tapi saya ingin itu untuk mainroadnya sampai ujung. Kalaupun ada masalah nanti kita lihat," ungkapnya.
Untuk itu beberapa ruas yang sebelumnya direncanakan akan beroperasi pada Desember 2017, akan mengalami keterlambatan penyelesaian konstruksi karena pembebasan lahan tadi, sehingga diharapkan dapat dioperasikan pada Triwulan I tahun depan.
Sementara ruas-ruas yang akan beroperasi hingga akhir tahun nanti menyisakan Seksi lB, ll, lll (Sepanjang-SS Krian) 15,4 km dari ruas Surabaya-Mojokerto, Soreang-Pasirkoja 8,1 km, Solo-Ngawi (SS Solo-Widodaren) 53,7 km, Ngawi-Kertosono Seksi I-lll (SS Ngawi-Wilangan) 56,5 km dan Bakauheni-Terbanggi Besar 13,9 km (Paket 1 Segmen Pelabuhan Bakauheni-SS Bakauheni dan Paket 2 Segmen SS Lematang-SS Kotabaru). (eds/hns)











































