Follow detikFinance
Kamis, 14 Des 2017 16:45 WIB

Butuh Berapa Duit Bangun Kereta Bandara Kulon Prugo?

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Dok. Angkasa Pura I Foto: Dok. Angkasa Pura I
Jakarta - Bandara Baru Yogyakarta atau New Yogyakarta International Airport (NYIA) akan dilengkapi moda transportasi kereta api (KA) sebagai akses menuju bandara. Pembangunan kereta bandara dilakukan untuk menunjang konektivitas menuju ke bandara mengingat jalur darat di Yogyakarta sudah cukup padat.

Kepala Bidang Sistem Transportasi Non Jalan, Deputi Sistem Transportasi Multimoda Kemenko Perekonomian, Dwinanta Utama mengatakan, kereta api ini direncanakan dibangun dengan dua skenario, yaitu at grade atau di darat dan elevated atau melayang. Total biaya penyelenggaraan kereta api bandara NYIA untuk skenario at grade mencapai Rp 1,07 triliun, sedangkan untuk skenario elevated sebesar Rp 1,9 triliun. perbedaan terbesar adalah pada biaya kontruksi.

"Tapi ini masih dikaji. Kalau dari hasil hitungan analisis kelayakan finansial pada skenario at grade dinyatakan layak secara finansial, harga tiketnya bisa lebih murah. Kalau hasil analisis kelayakan finansial pada skenario elevated dinyatakan layak secara finansial juga, tapi harga tiketnya lebih mahal," katanya saat ditemui pada acara Seminar Nasional di Hotel Grand Mercure Harmoni, Jakarta, Kamis (14/12/2017).


Dia bilang, masing-masing jenis kontruksi jalur kereta memiliki plus dan minus. Jika jalurnya dibangun at grade, maka harga tiket bisa ditekan hingga Rp 54.500. Namun, jalur tersebut berpotensi terkena jalur persimpangan sebidang yang menghambat operasional kereta.

Sementara jika dibangun elevated, harga tiketnya akan mencapai Rp 101.000, namun jalurnya akan terhindar dari perlintasan sebidang dengan jalan raya.

"Kalau elevated itu jangka panjangnya, dia tidak ada crossing sebidang dengan jalan raya biasa. Walaupun cuma 5 km tapi ada kemungkinan timbul pengembangan wilayah lain di situ. Itu kita khawatirkan dengan ada crossing-crossing sebidang nanti malah merepotkan," ujarnya.

Pembangunan secara at grade juga akan membuat konstruksi lebih kompleks karena dengan tipe topografi jalur tersebut cukup tinggi, perlu dibangun terowongan di bawahnya. Sedangkan pembangunan secara elevated akan menghindari konstruksi terowongan tersebut dan juga akan lebih lancar.

"Jadi kalau toh at grade nanti, mungkin crossing sebidangnya jadi semacam terowongan di bawahnya. Tapi perlu ada kajian lagilah," pungkasnya. (eds/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed