Railink Minati Bangun Kereta Bandara Kulon Progo

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 27 Des 2017 11:43 WIB
Foto: Suparno
Jakarta - Kereta bandara wacananya akan dibangun di Yogyakarta oleh PT Railink setelah Jakarta. Lokasi yang dipilih kemungkinan Bandara Kulon Progo atau New Yogyakarta International Airport (NYIA).

"Kami minat di Jogja. Secara analisis bisnis bagus, jaraknya bagus, waktu tempuhnya bagus, infrastruktur lebih siap. Track existing sudah double track juga tinggal nambah 5 km (menuju bandara)," kata Direktur Utama PT Railink Heru Kuswanto ditemui saat meninjau aktivitas penumpang kereta bandara, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Untuk masalah perlintasan, Heru memperkirakan tidak sesulit di Jakarta yang mayoritas lahannya sudah diisi bangunan. Sementara di sana masih banyak lahan persawahan yang bisa dialihfungsikan, sehingga realisasinya sangat dimungkinkan.

"Dari sisi bisnis bagus dengan jarak tempuh 42 km (dari pusat kota Yogyakarta ke bandara), bagus sekali karena pesaing terdekatnya jalan raya padat sekali. Kalau Jogja boleh (dibangun) kami ambil," ujar Heru.

Saat ini Bandara New Yogyakarta masih dalam tahap pembangunan. Menurutnya, jika nanti pihaknya sudah mendapat izin maka pembangunan kereta bandara bisa dibangun beriringan.

Dia turut membandingkan traffic atau jumlah orang yang mondar-mandir Bandara Adisutjipto yang juga berada di Yogyakarta. Menurutnya potensinya ada jika pihaknya membangun kereta bandara di daerah tersebut.

"Jogja sekarang traffic penumpangnya udah sekitar 7,5 juta-8 juta setahun. Kalau menurut saya Jogja hari ini lebih ketahan kapasitas bandaranya. Kalau dibuka New Yogyakarta dengan kapasitas bandaranya, luar biasa," terangnya.

Jika Bandara New Yogyakarta sudah kelar dibangun dia memperkirakan traffic pengunjung bandara di sana akan ikut meningkat. Perkiraannya bisa mencapai 14 juta orang.

"Saya pikir 2018-2020 kapasitasnya sudah di atas 12 jutaan, mungkin 14 jutaan kalau saya lihat forecast kemarin, saya lihat sekitar 14 jutaan. Itu sangat bagus dari sisi ukuran pasar. Kita biasanya butuh 10 juta ke atas penumpang bandara," tambahnya.

Saham Railink Dibagi dengan Angkasa Pura I

Wacana PT Railink membangun kereta bandara di Yogyakarta masih terganjal kondisi bahwa bandara di sana dikelola oleh PT Angkasa Pura I (Persero) atau AP I. Saat ini PT Railink merupakan anak usaha dari PT KAI (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II.

Oleh karenanya, jika nantinya Railink direstui membangun kereta bandara oleh masing-masing pemegang saham perlu melakukan pendalaman dengan AP I.

"Itu jadi diskusi. Melalui pemegang saham kan alurnya. Intinya Railink siap dan kami lihatnya itu bagus," kata Heru.

Pembicaraan soal pembangunan kereta bandara di Kulon Progo pun sudah dibahas, bukan hanya baru-baru ini. Hanya saja Railink selaku anak usaha hanya bisa menunggu keputusan dari pemegang saham, baik KAI maupun AP II.

Dia melihat, untuk merealisasikan hak tersebut maka nanti kemungkinan skemanya adalah saham Railink dibagi tiga antara KAI, AP II dan AP I. Porsinya sendiri masih perlu dibicarakan lebih lanjut.

"AP I bisa juga masuk ke Railink. Tapi mungkin nanti sahamnya milik bertiga. Tinggal disepakati aja komposisi mau seperti apa. Sekarang komposisi 60% KAI, 40% AP II. Nanti misalnya masuk AP I mau seperti apa, tapi nanti tergantung pemegang saham. Masih pembahasan awal lah," tambahnya.

Adapun, jika nanti pembangunan kereta bandara telah mendapatkan izin, pengerjaannya akan diatur dari sisi investasi maupun konstruksi. "Kan kita punya induk. Investasi bareng. Kalau investasi kan oleh induk. Dalamnya stasiun kami, ticketing kami, tapi konstruksi oleh induk. Biasanya pembagian gitu," jelas Heru. (ara/ara)