Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 04 Jan 2018 17:47 WIB

Ambruknya Girder Tol Jadi Pelajaran Pemerintah Bangun Infrastruktur di 2018

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance Foto: Selfie Miftahul Jannah/detikFinance
Jakarta - Pemerintah menargetkan sejumlah proyek infrastruktur untuk bisa diselesaikan pada tahun ini. Pembangunan infrastruktur menjadi kebutuhan esensial meningkatkan daya saing Indonesia dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjadi salah satu Kementerian yang berperan penting dalam pembangunan infrastruktur tersebut. Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin mengatakan ada sejumlah tantangan yang musti dihadapi dalam mencapai target realisasi pembangunan infrastruktur tahun ini, yakni soal ketersediaan rantai pasok sumber daya konstruksi yang mencukupi.

"Pertama soal materialnya, harus punya standar. Lalu soal peralatan konstruksinya, ini salah satu penghambat karena sebelumnya tidak terdistribusi dengan baik. Kemudian soal tenaga kerja. Bisa saja keterlambatan pekerjaan karena tenaga kerja yang tidak terampil," katanya dalam jumpa pers di Kementerian PUPR, Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Rantai pasok yang dimaksud mencakup semua bagian usaha pemasok bahan bangunan/material, usaha pemasok peraIatan konstruksi, usaha pemasok teknologi konstruksi, dan usaha pemasok tenaga kerja konstruksi dalam mencapai tujuan proyek.

Syarief memaparkan, dalam hal estimasi kebutuhan material dan peraIatan konstruksi, kebutuhan di Kementerian PUPR Tahun Anggaran 2018 antara lain aspal Minyak 921,58 ribu ton, semen 3,90 juta ton, baja 1,57 juta ton, alat berat 8.890 unit, dan beton pracetak 4,73 juta ton.

Selain itu, Syarif juga menyinggung soal kecelakaan kerja atau kegagalan konstruksi pada sejumlah girder beton yang terjadi dalam waktu tiga bulan terakhir. Menurutnya, hal tersebut menjadi contoh bahwa penggunaan teknologi penting dalam memitigasi resiko atau memastikan presisi pekerjaan yang dilakukan.

"Yang kemarin soal kecelakaan kerja misalnya, itu akibat teknologi yang digunakan harusnya ada inovasi agar tidak terjadi lagi. Umumnya pekerjaan sudah dilakukan sesuai standar. Tapi yang jadi persoalan adalah teknologi. Tahapan-tahapan sudah dilakukan, tapi ada proses teknolgi yang dilupakan," tutur Syarif.

"Jadi ini persoalan teknologi yang harus disempurnakan. Presisi yang tidak pas karena penempatan-penempatan yang tadinya sudah bagus, ada satu yang keseleo, jadi begitu. Makanya teknologi harus diperbaiki terus sehingga tidak terjadi lagi miss saat penempatan girder di ring," pungkasnya. (eds/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com