Follow detikFinance
Jumat, 05 Jan 2018 11:21 WIB

Sorong-Merauke Dibangun Jalan Darat, Ini Manfaatnya

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Trans Papua (Foto: Dok Bina Marga) Trans Papua (Foto: Dok Bina Marga)
Jakarta - Pembangunan jalan Trans Papua dari Sorong ke Merauke gencar dilakukan pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Sejak dibangun pada era pemerintahan Presiden BJ Habibie, hingga akhir 2017 lalu, setidaknya sudah ada 4.158,29 km panjang jalan Trans Papua yang sudah berhasil dibuka oleh Kementerian PUPR yang bekerja sama dengan Zeni TNI Angkatan Darat (AD) dari total panjang 4.329,5 km.


Anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan jalan di Papua pun tak sedikit. Pada tahun 2017, total dana APBN Perubahan dari pagu Kementerian PUPR yang dikucurkan untuk membangun infrastruktur di Papua dan Papua Barat mencapai Rp 7,61 triliun. Dari dana tersebut, sebesar Rp 5,2 triliun dialokasikan untuk jalan dan jembatan dari Ditjen Bina Marga.

Presiden Jokowi mengatakan, pembangunan jalan Trans Papua dan perbatasan menjadi upaya pemerintah dalam menurunkan biaya logistik sehingga harga-harga barang juga bisa ikut turun. Harga barang yang turun diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, sesuai dengan tujuan Nawacita yang ingin membangun wilayah-wilayah terluar, terdepan dan terpencil Indonesia.

Terlaksananya pembangunan jalan Trans Papua dan perbatasan pun diharapkan akan menghubungkan daerah yang selama ini terisolasi terhubung dengan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang ada.

Selama ini, wilayah timur Indonesia banyak tertinggal pembangunannya lantaran tak punya akses jalan yang memadai. Akibatnya, distribusi barang dan jasa sulit dilakukan. Tanpa ketersediaan jaringan jalan yang memadai, distribusi barang dan jasa hanya bisa dilakukan melalui udara. Yang sudah tentu biayanya lebih mahal.

"Kita harapkan nanti dengan jalan-jalan Trans Papua yang selesai, harga-harga juga mengikuti turun, dan kita harapkan hampir mirip-mirip dengan daerah-daerah yang lain baik di Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan lainnya," kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, biaya logistik di wilayah timur Indonesia, seperti di Papua menjadi pekerjaan rumah pemerintah sejak lama. Harga semen di puncak Jaya Wijaya saja bisa mencapai Rp 2 juta per sak, sangat berbeda dengan harga semen di Jawa dan Sumatera.

Dengan adanya jalan Trans Papua, kini harga-harga kebutuhan pokok di Papua juga sudah tidak lagi berbeda jauh dengan wilayah lain. Harga BBM pun sudah satu harga sama seperti di Jawa. Harga semen sudah turun setidaknya sebanyak 50 persen.

Harga semen di Bumi Cenderawasih yang awalnya Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta per sak bisa ditekan menjadi hanya Rp 500 ribu per sak ukuran 40 kilogram.

Harga semen tersebut bisa ditekan lantaran jalur distribusi yang bisa diperpendek. Semen diangkut dari Pelabuhan di Makassar ke Pelabuhan Pomako di Timika menggunakan jalur laut. Dari Timika semen kemudian didistribusikan ke sejumlah daerah melewati jalan Trans Papua yang panjangnya lebih dari 3.259 kilometer.

Saat ini setidaknya ada 6 kabupaten di Papua yang menikmati semen dengan harga Rp 500 ribu per sak. Keenam kabupaten itu adalah di Puncak Jaya, Tolikara, Lanny Jaya, Nduga, Yalimo dan Membramo Tengah.

Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional 17 Papua Barat Ditjen Bina Marga Kementerian PUPT, Yohanis Tulak mengatakan, sebelum tersambungnya Jalan Trans Papua, membuat masyarakat rela merogoh uang lebih banyak dan harus merelakan jual hasil perkebunannya dengan untung yang sedikit.

Hal tersebut, dikarenakan ongkos atau biaya angkut hasil perkebunan dari pedalaman ke kota belum ada akses infrastruktur yang memadai, sehingga membutuhkan waktu lama untuk sampai ke kota.

"Yang diangkut bahan bangunan, sembako, hasil pertanian, dan sebagainya," ungkap Tulak.

Jalan Trans Papua juga dibangun untuk meningkatkan konektivitas di wilayah Timur Indonesia, dalam rangka melakukan pemerataan ekonomi hingga ke seluruh Indonesia termasuk di perbatasan.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, jalan Trans Papua yang saat ini masih terus dibangun akan memberikan manfaat konektivitas yang nyata bagi warga Papua. Jika pembangunan dari Timika hingga Wamena sudah tersambung, masyarakat nantinya bisa menghemat ongkos transportasi lantaran tak lagi harus menggunakan pesawat.

"Papua termasuk tertinggal, termasuk Kalimantan, ini dikejar. Harapan kami, jalan yang kemarin dibangun dari Timika ke Wamena, kalau itu bisa diselesaikan, Insya Allah tahun depan, itu kita tidak usah pakai pesawat dari Timika ke Wamena. Insya Allah semua pakai truk. Nah, Insya Allah harga logistik akan lebih murah," kata Rini saat ditemui ketika berkunjung ke Wamena, beberapa waktu lalu.

Tersambungnya jalan Trans Papua dari Timika ke Wamena juga akan memberi manfaat pada distribusi barang-barang yang selama ini sulit jika harus dibawa menggunakan pesawat terbang.

"Kita bisa membawa LPG ke mana-mana. Saat ini beberapa titik di Wamena tidak bisa pakai LPG karena LPG tak bisa diangkat pakai pesawat," ujar Rini.

Konetivitas itu akan mendorong masyarakat untuk lebih interaktif dan membuat berbagai macam kegiatan ekonomi terjadi. Di mana pun, kalau tadinya satu titik terpencil dan jauh dari mana-mana, itu perekonomian sangat lemah karena membawa barang ke sana dan dari sana susah, perputaran uang tidak terjadi.

Adapun saat ini masyarakat sudah mulai merasakan manfaat keberadaan Jalan Trans Papua dan Perbatasan. Meskipun kendaraan yang lewat relatif sedikit, namun penduduk yang sebelumnya berjalan kaki dengan medan yang sulit dan memakan waktu lama,saat ini sudah dapat melintasi jalur yang sama dengan lebih mudah dan cepat. (eds/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed