Follow detikFinance
Selasa, 09 Jan 2018 19:42 WIB

Proyek LRT Ratu Prabu Rp 405 T, Bank China Siap Danai Tanpa Jaminan

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Luthfy Syahban/Infografis Foto: Luthfy Syahban/Infografis
Jakarta - PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) mengajukan diri untuk membangun Light Rail Transit (LRT) tambahan di Jabodetabek sepanjang 400 km dengan perkiraan investasi Rp 405 triliun. Perseroan pun yakin bisa mendapatkan pendanaan tersebut bahkan tanpa persyaratan ekuitas atau modal.

Presiden Direktur PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI), B. Bur Maras mengatakan pihaknya sudah mengajukan proposal pendanaan dari Korea Selatan, Jepang dan China. Dari ketiga perbankan tersebut, yang berasal dari China yang telah menyatakan siap.

"Kita bicara dengan ketiganya ini, tiba-tiba China membalas dengan tertulis kami sanggup dan menyediakan dananya. Cuma seminggu sudah balas. Karena dia takut keduluan Jepang," tuturnya di Gedung Ratu Prabu 1, Jakarta, Selasa (9/1/2018)

Bur Maras mengatakan, sumber dana dari China itu berasal dari salah satu bank ekspor impor China. Bahkan bank tersebut katanya rela memberikan pendanaan tanpa mempersyaratkan ekuitas dari perseroan.

Menurut laporan keuangan ARTi kuartal III-2017, perseroan memiliki total ekuitas hanya sebesar Rp 1,737 triliun dengan total liabilitas sebesar Rp 798,7 miliar.

"Kalau eximbank pinjamkan uang dia tak memerlukan equity itu capital dari saya. Jadi no capital. Semua pinjaman 100%," tegasnya.


Bahkan Eximbank asal China itu kata Bur Maras bisa memberikan pinjaman tersebut dengan bunga hanya 2-4%. Hal itu lantaran sifat pinjamannya soft loan.

Menurut Bur, China ada beberapa hal yang membuat China tertarik dengan proyek LRT besutannya. Pertama dia menghitung internal rate of retur (IRR) dari proyek itu hanya 10,9%.

"Kenapa sangat antusias, karena China membangun kereta ribuan km. Dengan medan yang sangat susah. Sekarang sudah selesai semua, padahal peralatan sudah banyak, puluhan ribu pekerja terlatih juga. Itu akan di PHK karena proyeknya selesai, tiba-tiba saya tawarkan," tambahnya.

Pinjaman tersebut nantinya kata Bur Maras juga tanpa jaminan. Pihaknya hanya akan mengasuransikan proyek tersebut kepada perusahaan asuransi asal Inggris Lloyd's of London.

"Jadi kalau proyek ini terlantar 2 hari sudah bisa cair. Lloyd's of London itu perusahaan asuransi terbesar di dunia," tukasnya.


Bur menambahkan, pembangunan proyek tersebut akan dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama diperkirakan membutuhkan dana US$ 8 miliar atau setara Rp 108 triliun (kurs Rp 13.500).

Nantinya tarif yang digunakan akan mengikuti tarif LRT di Amerika Serikat sekitar Rp 20 ribu per penumpang. Tarif tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukannya dengan menggunakan jasa konsultan asal AS Bechtel Corporation.

"Saya pelajari, kalau di San Fransisco ada LRT itu orang bayar US$ 1,5, kalau pulang pergi US$ 3. Kalau ada 5 juta orang naik itu, bisa US$ 15 juta per hari. Coba kalikan US$ 15 juta kali 365 hari sama dengan US$ 5,4 miliar setahun," terangnya.

Bur Maras mengasumsikan, jika saja dia LRT tersebut menghasilkan keuntungan bersih 30% dari US$ 5,4 miliar setahun itu maka dia yakin modal US$8 miliar bisa kembali dalam 6 tahun.

Namun, dia mengaku itu hanya perkiraan pribadinya saja. Sementara menurut hasil kajian studi yang dilakukan Bechtel Corporation modal tersebut akan kembali dalam waktu 15 tahun.

"Karena saya perhitungannya penumpang 5 juta per hari. Tapi menurut Bechtel itu awalnya paling 2-3 juta dulu, jadi dia menghitung 15 tahun," tukasnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed