Sang Presiden Direktur, B. Bur Maras pun kembali angkat bicara. Dia menjelaskan mengenai guna menjawab keraguan terhadap rencana tersebut.
Mulai dari progres atas rencana tersebut, sumber pendanaan atas kebutuhan investasi tersebut, hingga kontraktor yang akan menggarapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presdir Benarkan Ratu Prabu Energi yang akan Garap Proyek LRT
|
Foto: Mindra Purnomo
|
Bur Maras menjelaskan, memang pada tahap awal saat ini yang menginisiasi proyek LRT sepanjang 400 km itu melalui bendera PT Ratu Prabu.
"Jadi memang pada saat proses negosiasi ini induknya dulu," terangnya di Gedung Ratu Prabu 1, Jakarta.
Bur Maras menjelaskan rencana pembangunan LRT tersebut saat ini masih dalam tahap permohonan izin dari pemerintah. Seiring dengan itu pihaknya juga mencari pihak yang mau mendanai proyek yang diperkirakan membutuhkan dana mencapai Rp 405 triliun.
"Sementara feasibility study selesai 2 bulan yang lalu. Itu prosesnya 1,5 tahun yang dilakukan oleh Bechtel Corporation, itu perusahaan ternama dari AS," terangnya.
Saat ini pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Perhubungan, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selanjutnya dirinya akan melakukan pertemuan dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.
"Kami belum dapat (izin) dari pemerintah. Kalau secara verbal mereka menerima, tapi saya butuh tertulisnya. Seperti Wagub (DKI Jakarta), dia tidak mau kasih kalau belum ada dari Kementerian Perhubungan. Kementerian Perhubungan juga enggak mau kasih kalau belum dari Kemenko Maritim. Makanya kita mau ketemu pak Luhut," terangnya.
Jika izin sudah dikantongi, kata Bur Maras, pihaknya akan mulai mencari pendanaan. Meskipun menurutnya dari 3 perbank asal Jepang, China dan Korea Selatan, perbankan dari China sudah menyatakan minatnya.
Setelah itu pihaknya akan membentuk perusahaan konsorsium dengan pihak-pihak terkait lainnya. Nah saat itu kata, Bur, yang akan tergabung didalamnya adalah PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI).
"Jadi ujungnya tetap Ratu Prabu Energi. Karena memang harus berbadan hukum yang benar itu Ratu Prabu Energi," tegasnya.
Bank China Siap Biayai Rp 405 T tanpa Jaminan
|
Foto: Luthfy Syahban/Infografis
|
"Kita bicara dengan ketiganya ini, tiba-tiba China membalas dengan tertulis kami sanggup dan menyediakan dananya. Cuma seminggu sudah balas. Karena dia takut keduluan Jepang," tuturnya.
Bur Maras mengatakan, sumber dana dari China itu berasal dari salah satu bank ekspor impor China. Bahkan bank tersebut katanya rela memberikan pendanaan tanpa mempersyaratkan ekuitas dari perseroan.
Menurut laporan keuangan ARTi kuartal III-2017, perseroan memiliki total ekuitas hanya sebesar Rp 1,737 triliun dengan total liabilitas sebesar Rp 798,7 miliar.
"Kalau exim bank pinjamkan uang dia tak memerlukan equity itu capital dari saya. Jadi no capital. Semua pinjaman 100%," tegasnya.
Bahkan Eximbank asal China itu kata Bur Maras bisa memberikan pinjaman tersebut dengan bunga hanya 2-4%. Hal itu lantaran sifat pinjamannya soft loan.
Menurut Bur China ada beberap hal yang membuat China tertarik dengan proyek LRT besutannya. Pertama dia menghitung internal rate of retur (IRR) dari proyek itu hanya 10,9%.
"Kenapa sangat antusias, karena China membangun kereta ribuan km. Dengan medan yang sangat susah. Sekarang sudah selesai semua, padahal peralatan sudah banyak, puluhan ribu pekerja terlatih juga. Itu akan di PHK karena proyeknya selesai, tiba-tiba saya tawarkan," tambahnya.
Pinjaman tersebut nantinya kata Bur Maras juga tanpa jaminan. Pihaknya hanya akan mengasuransikan proyek tersebut kepada perusahaan asuransi asal Inggris Lloyd's of London.
Tarif LRT Ratu Prabu Rp 20 Ribu, 6 Tahun Bisa Balik Modal
|
Foto: Luthfy Syahban/Infografis
|
Bur Maras menjelaskan, pembangunan proyek tersebut akan dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama diperkirakan membutuhkan dana US$ 8 miliar atau setara Rp 108 triliun (kurs Rp 13.500).
Nantinya tarif yang digunakan akan mengikuti tarif LRT di Amerika Serikat sekitar Rp 20 ribu per penumpang. Tarif tersebut berdasarkan hasil kajian yang dilakukannya dengan menggunakan jasa konsultan asal AS Bechtel Corporation.
"Saya pelajari, kalau di San Fransisco ada LRT itu orang bayar US$ 1,5, kalau pulang pergi US$ 3. Kalau ada 5 juta orang naik itu, bisa US$ 15 juta per hari. Coba kalikan US$ 15 juta kali 365 hari sama dengan US$ 5,4 miliar setahun," tuturnya di Gedung Ratu Prabu 1, Jakarta.
Bur Maras mengasumsikan, jika saja dia LRT tersebut menghasilkan keuntungan bersih 30% dari US$ 5,4 miliar setahun itu maka dia yakin modal US$8 miliar bisa kembali dalam 6 tahun.
Namun, dia mengaku itu hanya perkiraan pribadinya saja. Sementara menurut hasil kajian studi yang dilakukan Bechtel Corporation modal tersebut akan kembali dalam waktu 15 tahun.
"Karena saya perhitungannya penumpang 5 juta per hari. Tapi menurut Bechtel itu awalnya paling 2-3 juta dulu, jadi dia menghitung 15 tahun," terangnya.
Sementara untuk total dana investasi Rp 405 triliun, Bur Maras mengaku belum memperhitungkan perkiraan balik modalnya.
Gandeng Kontraktor yang Garap Kereta Cepat Jakarta-Bandung
|
Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
|
"Nanti yang bangun China Railway Construction Corporation. Iya, itu dia yang menggarap proyek Kereta Cepat," tuturnya.
Tidak hanya itu, Ratu Prabu juga akan mengikut sertakan Bechtel Corporation, salah satu grup perusahaan konstruksi dan pengerjaan sipil asal Amerika Serikat (AS). Perusahaan itu juga yang telah ditunjuk menjadi konsultan untuk membuat kajian proyek tersebut.
"Nantinya Bechtel akan jadi operator, tapi sementara, sambil kita belajar. Nanti konsorsium juga kita akan ajak BUMN," tambahnya.
Proyek ini akan terbagi dalam 3 fase. Rencanya fase pertama akan dimulai pada 2020 dengan lama pengerjaan 3 tahun. Namun, itu pun jika pihaknya sudah mendapatkan izin dari pemerintah.
"Kita si targetnya 1,5 tahun dari sekarang bisa dimulai pengerjaannya," kata Bur.
Halaman 2 dari 5











































