Follow detikFinance
Rabu, 24 Jan 2018 12:12 WIB

100 Hari Anies-Sandi, Diajak Ratu Prabu Bangun LRT Rp 405 T

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Rencana kerja sama pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jakarta dengan PT Ratu Prabu Energi sepanjang 400 km menjadi salah satu wacana yang dijanjikan pada pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno dalam 100 hari pertama bekerja.


Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, kala itu mengaku telah melakukan pertemuan dengan PT Ratu Prabu Energi di Balai Kota, pada 4 Januari 2018 silam.

Usai pertemuan itu, Sandi mengatakan telah mendapatkan tawaran dari Ratu Prabu untuk menggarap LRT sepanjang 400 km yang jalurnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Sandi berujar, perusahaan yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) itu telah melakukan kajian bersama konsultan.

"Tadi kita kedatangan grup Ratu Prabu Energi. Salah satu usaha besar di Indonesia yang membawa konsep yang sudah cukup matang yaitu membangun lebih dari 200 km tambahan LRT di wilayah Jakarta dan sekitarnya," kata Sandi, di Balai Kota, Kamis (4/1/2017).

Belakangan, diketahui pihak Ratu Prabu berencana membangun LRT di Jakarta dan sekitarnya sekitar 400 km, dengan nilai proyek yang cukup fantastis mencapai Rp 405 triliun. Sandi mengatakan, rencana pembangunan yang akan dilakukan ini murni bisnis, dan tidak melibatkan anggaran dari pemerintah.

PT Ratu Prabu Energi Tbk sendiri merupakan salah satu emiten yang sahamnya diperdagangkan dengan kode perdagangan saham ARTI. Sahamnya pertama kali diperdagangkan di pasar modal RI pada 30 April 2003 dengan penjamin emisi efek PT Harumdana Sekuritas.

Komisaris Utama Ratu Prabu adalah Derek Prabu Maras, sementara menduduki jabatan Komisaris adalah Agus Cahyo Baskoro. Di jajaran direksi, ada Burhanuddin Bur Maras sebagai Direktur Utama, kemudian ada Gregory Quinn Maras, Gemilang Zaharani dan Iskandarsyah sebagai direktur.

"Mereka sudah berkoordinasi dengan BPTJ dan Kemenhub. Rencananya akan dimatangkan. Jumlah lapangan kerja yang bisa tercipta kami sedang kaji. Ini memastikan bahwa Jakarta bisa punya transportasi berbasis rel yang tidak kalah dengan kota-kota besar di luar negeri," tutur Sandi.


Proyek ini rencananya terbagi dalam 3 fase, di mana fase pertama akan dimulai pada 2020 dengan lama pengerjaan 3 tahun. Namun, itu pun jika Ratu Prabu sudah mendapatkan izin dari pemerintah.

Di fase pertama yang terdiri dari 9 jalur (line) A-I membentang di segala penjuru Jakarta.

Line A membentang dari Karawaci sampai Jalan Sultan Agung, line B dari Jalan Raya Serpong sampai Bandara Soekarno Hatta, line C dari Bendungan Hilir sampai Kampung Bandan, line D dari Bandara Soekarno Hatta sampai Cawang, dan line E dari Jalan Joglo Raya sampai Gelanggang Olahraga.

Kemudian, berlanjut di line F dari Cikunir sampai Selamat Sempurna (Pluit), line G dari Antasari sampai Depok, dan Line I dari Dufan menuju Bintara.

Lalu di fase kedua terdapat 4 jalur, line J dari nasional 1 (Kapuk Muara) sampai Bintara Permai, line K dari Tentara Pelajar sampai Kemang Raya, line L dan M direncanakan menuju Pulau Reklamasi.

Terakhir fase ketiga, dimulai dari line N Jalan Otto Iskandar Dinata menuju Depok, line O dari Jalan Nasional 2 sampai Jalan Pajajaran Bogor, line P dari Jalan R.E Martadinata di Jakarta Utara sampai Cikunir, dan line Q direncanakan dari Depok menuju Jalan Raya Bogor.


PT Ratu Prabu Energi juga sudah mengeluarkan dana sebesar US$ 10 juta atau setara Rp 135 miliar (kurs: Rp 13.500/dolar) untuk melakukan studi terkait pembangunan LRT sepanjang 400 km. Dana itu dikeluarkan dari kantong pribadi Presiden Direktur PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) B. Bur Maras.

Bur Maras mengatakan, studi terkait pembangunan LRT sepanjang 400 km sudah dilakukan dengan matang dan sangat detail oleh Bechtel, perusahaan konsultan asal Amerika Serikat (AS). Bahkan, dengan adanya studi tersebut bisa membuat rencana pembangunan LRT ini kredibel dan mendapatkan pendanaan dari bank.

"Seluruhnya dihitung Bechtel. Kalau hitung itu bukan hitung berapa angin terkencang, gempa berapa kali setahun, diukur secara teknis, sesudah itu dihitung kelayakan keuangan," kata Bur Maras saat itu.

Sejauh ini, Ratu Prabu sendiri mengatakan akan membangun proyek tersebut dengan tahap awal membentuk konsorsium. Dalam perusahaan joinan tersebut, Ratu Prabu akan mengajak China Railway Construction Corporation sebagai kontraktornya yang juga menggarap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed