Tulisan yang terpampang pada halaman depan itu menjadi janji PT MRT Jakarta untuk menuntaskan penyelesaian MRT pertama di Indonesia yang ditarget beroperasi pada bulan Maret tahun depan.
Sejak dimulai pengerjaan fisik proyeknya pada Oktober 2013 silam, saat ini progres MRT Jakarta fase I yang menyambungkan Lebak Bulus dan Bundaran HI sepanjang 16 km menyisakan sekitar 9% pekerjaan lagi. Secara fisik, MRT Jakarta ditarget tuntas pada pertengahan tahun ini, lalu akan diujicoba di Desember 2018, dan di bulan Maret 2019 warga Jakarta sudah bisa menembus Lebak Bulus-Bundaran HI dalam waktu 30 menit saja menggunakan MRT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Capaian proyek
|
Foto: Dok.
|
Sedangkan untuk pemasangan track railway (rel), hingga 25 Januari 2018, sudah terpasang sepanjang 9.644 meter dari total panjang rel 37.128 meter.
Rinciannya, untuk rel di depo area Lebak Bulus, terpasang sepanjang 3.950 meter dari 6.139 meter. Kemudian rel layang sepanjang 4.088 meter dari 18.714 meter, dan untuk di bawah tanah sepanjang 1.608 meter dari 12.275 meter.
Sementara, untuk kesiapan operasional saat ini sudah mencapai 45,54%, yang meliputi persiapan dari institusi dan sumber daya manusia.
Dari aspek pendanaan, saat ini penyerapan anggaran telah mencapai sekitar 64%, yakni sebesar Rp 7,9 triliun dari total nilai anggaran yang dikontrakkan sebesar Rp 12,45 triliun.
Pemasangan rel kereta diharapkan bisa selesai pada awal bulan Maret 2018. Pada bulan Maret itu juga, kereta pertama MRT yang dibuat oleh Nippon Sharyo akan tiba di Indonesia. Selain itu, listrik juga mulai disalurkan pada April 2018.
Tahan Gempa Hingga Banjir
|
Foto: Istimewa/MRT Jakarta
|
MRT Jakarta memiliki sejumlah keunggulan. Dari sisi keamanan, MRT Jakarta tahan gempa karena dibangun dengan standar konstruksi SNI 2012. Lalu tahan banjir, karena pintu masuk ditinggikan hingga 1,5 meter, menggunakan anti-flood barrier system, sump-pit dengan sistem pompa dan sensor ketinggian air.
Dari segi kenyamanan, kereta MRT Jakarta memiliki stasiun dengan fasilitas yang sangat mendukung. Stasiun akan dilengkapi penyejuk udara, eskalator, elevator, area komersil, fasilitas umum/sosial, WiFi, fasilitas khusus bagi penumpang prioritas (ibu hamil-menyusui/penyandang disabilitas/lansia/anak-anak), hingga sistem tiket terpadu.
Dengan 16 set kereta yang ada (14 beroperasi, 2 cadangan), diperkirakan jumlah penumpang yang akan diangkut bisa mencapai 173.400 orang per hari, dengan waktu tunggu antar kereta atau headway sekitar 5 menit saat jam sibuk.
Kereta MRT Jakarta akan dikendalikan dengan sistem semi otomatis level 2. Dalam hal ini, kereta akan dioperasikan dengan masinis, namun masinis hanya berfungsi mengoperasikan penutupan pintu kereta. Kereta sendiri akan berhenti dan bergerak secara otomatis.
Untuk tahap awal, waktu operasi MRT Jakarta akan dimulai sejak pukul 05.00 WIB hingga 24.00 WIB.
Fasilitas Kereta
|
Foto: Dok.
|
Di dalam kereta akan tersedia tempat duduk yang terbuat dari material berbahan fiber reinforced plastik yang tahan api, dengan lebar 430 mm, kedalaman 420 mm. Kereta juga dilengkap jendela berupa fix window dan opening window (dapat diturunkan) yang bisa menyerap panas.
Sejumlah fitur yang terdapat di dalam kereta di antaranya pendingin ruangan, dua CCTV per kereta, bagasi di atas kursi prioritas, passanger information display, tuas pembuka pintu darurat, intercom, alat pemadam api ringan, pintu darurat di ruang masinis, area kursi roda dan lainnya. Akses ke sinyal telekomunikasi juga nanti akan disediakan untuk jalur yang melewati area terowongan.
Kereta MRT Jakarta fase I akan memlili 16 set rangkaian kereta, di mana setiap 1 set rangkaian terdiri dari 6 kereta. Setiap kereta bisa menampung hingga 332 orang atau 1.950 orang per rangkaian.
Fakta Terowongan
|
Foto: Dok.
|
Untuk jalur bawah tanah, dibangun terowongan dengan diameter 6,05 meter. Dengan panjang jalur bawah tanah sekitar 6 km, panjang terowongan yang dibangun mencapai 4 km (sisanya stasiun). Ada 5.365 ring yang dibutuhkan untuk membangun terowongan sepanjang 4 km tersebut, di mana setiap ringnya terdapat 6 segmen yang seluruhnya diproduksi oleh Wika Beton.
Variasi kedalaman terowongan berkisar 12 hingga 28 meter, di mana terowongan terdalam berada pada jalur Stasiun Dukuh Atas.
Dalam pengerjaan penggalian terowongan proyek MRT Jakarta fase I, tunnel boring machine (TBM) yang digunakan berjenis earth pressure balance. Mesin bor ini responsif terhadap kondisi mayoritas tanah di sepanjang koridor 1.
Terowongan dikerjakan oleh badan usaha PT Antareja dan Mustikabumi yang dimulai pada September 2015 lalu. Total waktu pengeboran mencapai 16 bulan, di mana pada Februari 2017 lalu terowongan dengan panjang sekitar 4 km tersebut sudah rampung dikerjakan. Konstruksi terowongan diprediksi bisa bertahan hingga 100 tahun lamanya.
Kawasan TOD
|
Foto: Dok.
|
Nantinya, sepanjang jalan Sudirman hingga Thamrin akan dibangun trotoar khusus. Lebar trotoar mencapai 10 meter, sehingga akan mendorong budaya berjalan kaki di masyarakat.
Setiap TOD nantinya akan terintegrasi dengan pintu masuk MRT. Sejumlah kawasan TOD itu di antaranya di Lebak Bulus, Blok M, Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran HI.
Halaman 2 dari 6











































