Follow detikFinance
Kamis, 22 Feb 2018 21:42 WIB

Marak Kecelakaan Kerja Disebut Karena Kejar Target, Ini Kata Menhub

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Raja Adil Siregar/detikcom Foto: Raja Adil Siregar/detikcom
Pontianak - Setelah terjadi beberapa kali kecelakaan kerja, pemerintah sepakat menghentikan pengerjaan sementara proyek konstruksi elevated atau layang. Banyak kalangan menyebut insiden tersebut lantaran kejar target penyelesaian.

Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi, menyebut kecelakaan kerja lebih karena ada aspek yang terabaikan, terutama pengawasan. Soal cepatnya pengerjaan penyelesaian proyek, hal tersebut lantaran infrastruktur Indonesia relatif sudah sangat tertinggal.

"Ya memang bukan masalah kejar target, tapi kita ini ketinggalan. Kita harus kejar itu. Jangan dibalik kejar target," kata Budi ditemui di sela-sela kunjungan kerjanya ke Kalimantan Barat, Kamis (22/2/2018).

Dia mencontohkan, pembangunan pra sarana kereta api seperti Light Rail Transit (LRT) dan Double Double Track (DDT), perlu dikebut karena kemacetan semakin parah dari tahun ke tahun.

"Macam kereta api, mengapa cepat-cepat? Ya sudah macet kayak begitu, masa kita enggak selesai-selesai. Waktunya sudah lewat, mestinya selesai tahun lalu, memang kita mengejar ketertinggalan," ungkap Budi.

"Yang (proyek) besar saja, Jakarta Surabaya buat jalan tol sekarang bisa. Kita tahu duluan kita kerjain tol, tapi China duluan (selesainya). Jadi kita mengejar ketertinggalan, bukan kejar target," pungkasnya.

Selain kurangnya pengawasan jadi sebab dominan kecelakaan kerja di proyek-proyek infrastruktur, lanjut Menhub, faktor lainnya, yakni beberapa standard operating procedure (SOP).

"Karena untuk proyek sebesar itu pasti ada SOP, ada prosedur. Sebagai contoh yang simpel satu pekerjaan harus dikerjakan 24 jam, kalau mestinya 3 shift, kadangkala dikerjakan 2 shift. Jadi orang-orang kerja 12 jam, dengan seperti itu susah diharapkan bekerja dengan baik," jelas Budi

Bahkan, sambungnya, sejumlah proyek infrastruktur diawasi langsung oleh konsultan asing.

"Kalau kejadian lagi konyol banget. Makanya kita lihat apakah nanti kontraktor dan konsultan di sana. Kalau LRT Jakarta konsultannya kan dari Korea, harusnya lebih strick," tutur Budi. (idr/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed