Follow detikFinance
Senin, 12 Mar 2018 18:36 WIB

Kalah dari China di JKT-BDG, Jepang Serius Garap Kereta Kencang JKT-SBY

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kereta Shinkansen di Jepang. Foto: Hans Henricus. Kereta Shinkansen di Jepang. Foto: Hans Henricus.
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan melakukan pertemuan dengan CEO Executive Managing Director Japan Bank for International Coorperation (JBIC) Tadashi Maeda. Keduanya membahas soal proyek kereta kencang Jakarta-Surabaya di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Usai rapat, Tadashi Maeda mengatakan bahwa pihak Jepang mengaku serius salam menggarap proyek tersebut. Hal ini, kata Tadashi Maeda, sangat penting bagi Jepang, terutama karena telah kalah dalam menggarap proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dari pihak China.

"(Proyek) Jakarta-Surabaya sangat penting karena kita kehilangan (proyek) Jakarta-Bandung melawan China, yang sejauh ini belum ada (pengerjaan) apa-apa," kata Tadashi Maeda di lokasi, Jakarta, Senin (12/3/2018).

Kepada Luhut, Tadashi Maeda mengatakan, bahwa pihaknya akan lebih serius dalam mengerjakan proyek, terutama masalah waktu. Oleh sebab itu saat ini JICA sedang melakukan kajian terhadap proyek tersebut.


"Kami bukan orang China, kami orang Jepang, kami lebih tepat waktu. Dan Jakarta-Surabaya, menurut JICA saat ini sedang melakukan studi pra-kelayakan dan masih banyak isu yang perlu dikaji. Contohnya tipe apa ini jelas bukan highspeed, mungkin baik untuk kereta dengan kecepatan 180-200 km/jam, tidak 300 km, dan juga tidak hanya kereta penumpang tapi juga kargo juga," tuturnya.

Lebih lanjut Tadashi Maeda juga mengatakan bahwa proyek kereta kencang ini sangat besar. Oleh sebab itu Jepang tak hanya tertarik untuk hanya membantu pinjaman dana, tapi juga dalam memberikan saran serta kajian.

"Bagaimana kita bisa membuat proyek ini lebih atraktif, bagi calon investor dari sektor swasta, karena proyek ini tidak hanya sekadar kecepatan tinggi tapi juga akan mengembangkan daerahnya. Dan juga bahwa ini adalah perubahan yang baik bagi kawasan di koridor untuk keuntungan ekonomi yang lebih besar," jelas dia.

(fdl/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed